BERBAGI
Maya Lathiefah (Foto: Zakki Amali/Serat.id)

Tanpa peluang di sektor formal, transperempuan di Kota Semarang tetap bekerja sembari berusaha menghapus stereotip ekspresi gendernya.

NADA suara Maya Lathiefah meninggi saat berkisah persekusi transperempuan. Karyawan sebuah hotel di Kota Semarang, mengunggah identitas tamu di akun media sosial. Pemilik identitas terusik lantaran ekspresi gendernya jadi pergunjingan warganet di akun media sosial karyawan.

Tindakan tak etis itu membuat Maya berang. Ia mengadukan pelanggaran privasi konsumen kepada pengelola hotel. Insiden itu berakhir damai dengan kesediaan manajamen hotel meminta maaf dan memberikan kompensasi.

Keseharian Maya sebagai koordinator Divisi Hukum dan HAM Persatuan Waria Semarang (Perwaris) berkutat pada bidang advokasi transperempuan (laki-laki yang mengekspresikan diri sebagai perempuan). Kekerasan berbasis gender belum pernah menimpa Maya, tetapi ia berdiri di garis terdepan saat transperempuan menjadi korban.

Maya, seorang transperempuan, 30 tahun silam lahir di Lumajang, Jawa Timur. Ia  telah menyadari ekspresi gendernya sebagai perempuan sejak kanak-kanak. Ia merantau ke Kota Semarang setelah lulus SMA dari kota kelahirannya.

Sarjana hukumnya diraih dari sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Semarang beberapa tahun lalu yang membawanya selangkah lagi menjadi advokat. Semua kasus bakal ia ditangani, termasuk kekerasan terhadap transperempuan.

“Orang seperti aku paling cocok jadi sarjana hukum. Di mata hukum semua sama. Tak ada perbedaan gender. Saya sudah melalui beberapa tahapan untuk jadi advokat. Tinggal sumpah advokat saja. Wajah sudah agak kelihatan judes dan galak ya kan,” katanya, kepada Serat.id, 26 Oktober 2018.

Ia sempat belajar akuntansi dan sastra Indonesia. Namun tak tamat, karena sibuk bekerja. Maya sebetulnya selangkah lagi jadi sarjana sastra. Tersisa skripsi di ujung perkuliahan. Tapi dia memilih mengumpulkan pundi-pundi uang sebagai supervisor di sebuah restauran di Depok, Jawa Barat.

Ketertarikan Maya pada ilmu hukum berlatar pada kebutuhan kelompoknya untuk mengadvokasi secara mandiri dan cepat dalam pembelaan hak asasi manusia (HAM). Menurut dia, tranperempuan berkait ekspresi gender. Negara harus menjamin hak-haknya.

“Fokus advokasi tidak hanya isu gender semata. Tapi teman-teman di sini kalau ada persoalan ke saya,” kata dia.

Tapi Maya memandang persoalan HAM dan hukum dibela tanpa fanatisme pada kelompoknya. Berdasarkan kesepakatan di Perwaris, pembelaan bersifat total hanya pada korban, bukan transperempuan sebagai pelaku kejahatan.

“Kita tak total waria yang salah. Ada konsekuensi dari kesalahan. Baru kalau sudah waria jadi korban, kita bela mati-matian,” ujar dia.

Organisasi advokat, kata Maya, tak punya alasan menolak transperempuan jadi advokat. Ekspresi gender tak terdapat dalam syarat jadi advokat.

“Jadi advokat itu cara saya mencari rezeki dengan jalan yang baik. Jalan baru bagi saya. Tidak masalah ikut organisasi advokat manapun. Saya siap memenuhi semua syaratnya.”

Profesi advokat yang akan digeluti Maya membalikkan stereotip transperempuan di masyarakat yang dicitrakan sebagai pengamen, pekerja seks, dan hal buruk lainnya.

“Di mata hukum semua sama. Tak ada perbedaan gender. Saya sudah melalui beberapa tahapan untuk jadi advokat.”

Fakta ini tak ditampik Ketua Perwaris Semarang, Silvi Mutiari. Sebagian besar anggotanya memilih hidup di jalanan, karena tak ada jalan profesi yang tersedia di ranah formal.

“Waria menyambung hidup dari pekerjaan di sektor informal, seperti pengamen. Ini memang pilihan sulit, karena waria tak punya keterampilan. Tingkat pendidikan juga memengaruhi untuk pilihan profesi waria,” kata Silvi awal Oktober 2018.

Beragam profesi

Dalam laporan penelitian UNDP dan USAID berjudul Hidup Sebagai LGBT di Asia: Laporan Nasional Indonesia Tinjauan dan Analisa Partisipatif (2013) terungkap pekerjaan mengajar, perbankan dan salon penata rambut (kelas menengah ke atas) merupakan tempat yang aman bagi para transperempuan menyambung kehidupan.

Hanny (Foto: dokumentasi pribadi)

Vallen, 33 tahun, seorang transperempuan kelahiran Kota Semarang yang kini menekuni bisnis salon penata rambut dan tata rias di Lokalisasi Sunan Kuning Kota Semarang. Dia pernah menjadi pengamen bertahun-tahun sejak lulus SMA.

Nasibnya mujur berada di lingkungan yang mengesampingkan gender dalam pekerjaan dan bersosialisasi.

“Saya di sini baik-baik saja. Tidak ada yang mencibir. Kalau pun ada, biarkan saja. Sudah kebal dengan cibiran,” kata Vallen, Sabtu, 18 Agustus 2018.

Vallen, merupakan sedikit dari transperempuan dengan pekerjaan yang layak. Dia mulai meniti karir sebagai penata rias dari bawah. Semula ikut bekerja dengan pengusaha mode ternama di Kota Semarang lalu berangsur memulai usaha secara mandiri.

Selama 10 tahun terakhir, ia membuka salon pribadinya di Resosialisasi Argorejo yang dikenal sebagai lokalisasi ‘Sunan Kuning’. Di sana terdapat 13 salon. Sembilan salon di antaranya dikelola transperempuan. Perputaran uang di salon itu membawa harapan bagi kehidupan Vallen, karena setiap hari, para pekerja seks menggunakan jasanya untuk tata rias dan rambut.

Salonnya cukup sederhana. Berada di bagian depan sebuah wisma lokalisasi Sunan Kuning. Berkukuran 3×3 dengan satu pintu. Ada dua kursi untuk pelanggan. Dia seorang diri mengelolanya, kadang kerja keras saat menangani dua pelanggan sekaligus. Vallen membayar Rp 1,2 juta per bulan untuk sewa bangunan, sudah termasuk biaya listrik

Dalam sebulan, rerata penghasilanya Rp 7 juta. Pendapatan itu terkurangi untuk membayar bangunan, pengeluaran lain untuk biaya makan, transportasi, sisanya disimpan ke bank.

“Usaha di sini enak. Rata-rata per hari ada 10 pelanggan. Per orang Rp 50 ribu untuk tata rias dan catok rambut. Mereka wajib dandan di sore hari saat akan melayani tamu,” kata Vallen.

Vallen kini tengah dilanda ketidakpastian setelah berembus kabar penutupan lokalisasi itu pada tahun 2019. Ia berencana meminjam uang ke bank untuk menambah modal usaha salon di rumahnya di Kota Semarang, tapi perbankan menolak dengan alasan usahanya di lokalisasi terancam tutup. Vallen bakal menjadi korban tak sengaja dalam penutupan lokalisasi oleh negara.

“Mau tak mau kalau lokalisasi tutup, saya pindah usaha di rumah. Prediksi saya tak seramai di sini,” ujar dia.

Lain halnya dengan Vallen, Silvi Mutiari memilih profesi dari hobinya memandu acara atau master of ceremony (MC). Menurut dia, hobi yang dibayar adalah pekerjaan terbaik.

“Orang memanggil kita tak hanya memandu acara, tapi juga melawak. Mungkin mereka senang dengan guyonan spontan dan ceplas-ceplos saya,” kata dia.

Profesi MC telah dijalani sejak tahun 2005 sampai saat ini. Acara pertama yang dipandu adalah reuni. Dari sana, undangan menjadi MC terus mengalir. Berbagai pihak yang berkepentingan mengundangnya. Dari acara nikahan ke halal bi halal serta reuni. “Musim nikah itu panen bagi saya. Banyak permintaan MC,” ujar dia.

Bukan sekadar acara warga biasa, Silvi kerap memandu acara instansi pemerintahan dan kepolisian. Jejaring Perwaris dengan instansi-instansi membawa Silvi berkenalan dengan para pemangku kebijakan.

 “Saya paham orang tua tak setuju, karena citra negatif waria kerja di jalanan. Sekarang kan tidak, saya punya pekerjaan jelas dan dapat hidup mandiri.”

Hal ini bermanfaat juga untuk organisasinya. Diskriminasi dari aparat di Kota Semarang nyaris tak ada. Justru diskriminasi terjadi saat mencari pekerjaan di sektor formal, yang tertutup bagi transperempuan.

“Momen jadi MC saya gunakan untuk mencari jaringan yang berguna bagi organisasi. Pemerintah dan kepolisian di sini baik sama waria. Saya sering dilibatkan jadi MC. Kalau ada apa-apa, koordinasinya mudah,” imbuh dia.

Silvi mencontohkan kasus waria yang dibunuh pada tahun 2016 silam. Saat kejadian, kata dia, polisi berkoodinasi dengan Perwaris untuk mengidentifikasi korban.

Perwaris telah menunjukkan eksistensinya sebagai kelompok pendukung transperempuan dan ajang berbagi ketrampilan, termasuk mencari pekerjaan yang layak.

Menghapus stereotip

Madam Gida, 29 tahun, meniti fase tersulit dalam eksistensinya sebagai transperempuan, karena ada penolakan dari ayah dan ibunya yang menganggap buruk profesi MC. Dia menghapus stereotip dalam keluarga dengan bekerja keras.

Madam Gilda (Foto: dokumentasi pribadi)

“Sekarang order MC paling sepi itu lima sampai sepuluh kali per bulan. Paling ramai itu 20 kali sebulan. Karena itu, ayah akhirnya mau menerima saya sebagai transperempuan. Sebelum meninggal beberapa bulan lalu, ayah ikut bantu lihat cara saya bekerja. Dia ikut menyiapkan baju yang akan saya pakai,” kata dia, Jumat, 2 November 2018.

Gilda bertanggungjawab sebagai penghibur di Bintang Asri Management, sebuah organisasi pengelola acara. Tidak saja perlu soliditas tim dalam sebuah acara, MC punya peran menghidupkannya.

“Percaya diri itu kunci keberhasilan MC. Apapun acara dan kondisi saat di atas panggung, wajib percaya diri,” kata dia.

Gilda ringan tangan berbagi keterampilan MC, termasuk cara tata rias dan tata rambut kepada sesama anggota Perwaris. Tapi tak semua anggota tertarik, karena lebih tertarik dengan pekerjaan yang mudah seperti pengamen jalanan.

“Perwaris belum secara khusus punya program keterampilan. Baru sebatas berbagi pengalaman saja. Kalau ada yang tertarik, kita ajari dan ajak kerja,” ujar dia.

Jejaring transperempuan terbentuk dari perasaan senasib dan seperjuangan. Gilda punya cerita dengan anggota transperempuan, Hanny, 30 tahun. Keduanya saling menguatkan sejak mengekspresikan diri sebagai transperempuan dari tahun 2012 sampai sekarang.

Keduanya bertemu di sebuah kafe di Jalan Singosari Raya, Semarang Selatan, Kota Semarang, awal November 2018. Dengan rambut panjang dan tanpa tata rias mencolok, mereka berbincang di sudut ruangan khusus perokok.

Gilda memanggil Hanny dengan ‘kakak’, sedangkan Hanny memanggil Gilda dengan ‘madam’, sebuah panggilan saling menghormati sesama transperempuan.

Gilda, orang pertama bagi Hanny yang menyarankan menjadi transperempuan tahun 2009. Gilda dua tahun kemudian menyatakan ekspersinya gendernya.

Mereka jadi bintang di ruangan itu, karena pengunjung lain telah mengenalnya sebagai MC dan pemandu senam di acara instansi mereka. Tanpa canggung, mereka berpelukan dan cipika-cipiki saat pamit pulang.

“Tiga tahun saya tidak berhubungan dengan keluarga setelah jadi waria. Saya nyamannya memang seperti ini. Sudah tak bisa ditawar lagi. Saya paham orang tua tak setuju, karena citra negatif waria kerja di jalanan. Sekarang kan tidak, saya punya pekerjaan jelas dan dapat hidup mandiri,” kata Hanny.

Hanny punya beragam keterampilan. Instruktur senam, tari modern, tarik suara dan tata rias. Profesi instruktur tari tak lagi digelutinya, karena tak ada ruang bagi transperempuan mengajarkannya kepada anak-anak sekolah yang semula para guru di sekolah itu mengetahui ekspresi gender Hanny sebagai laki-laki. (ZAKKI AMALI)

Liputan ini bagian dari fellowship “Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM” (2018) yang digelar Aliansi Juranlis Indonesia (AJI) dan Ardhanary Institute

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here