BERBAGI
Seorang wisatawan asal Mancanegara belajar membatik di Desa Sumberejo, Meteseh Kecamatan Tembalang. (Foto: Anindya Putri)

Serat.id- Puluhan Wisatawan asal Mancanegara asal yang datang di Kota Semarang dengan menggunakan kapal MS Amsterdam, dan berlabuh di pelabuhan Tanjung Mas pada Selasa, 13 November 2018.

Kota Semarang yang dikenal dengan Kota Lumpia tidak hanya identik dengan wisata Lawang Sewu atau Kota Lama saja. Namun, ibu kota Jawa Tengah tersebut juga memiliki batik khas asli Semarangan yang menjadi minat wisatawan berkunjung. Puluhan Wisatawan tersebut datang untuk menyaksikan proses pembuatan batik asli Semarang di Desa Sumberejo, Meteseh Kecamatan Tembalang.

Salah seorang wisatawan asal Florida Amerika Serikat, Cudie Syfer menuturkan sangat tertarik dengan kebudayaan serta kearifan lokal yang ada di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Ditambah dengan kerajinan-kerajinan yang menjadi ciri khas daerah yang disambanginya seperti pembuatan batik mempunyai nilai tersendiri baginya.

“Saya baru pertama kali datang ke Indonesia khususnya di Kota Semarang untuk melihat pembuatan batik, sebelumnya saya juga berkunjung ke Jerman hanya melihat pembuatan mobil VW yang semuanya dari mesin,” ujar Cudie kepada Serat.id di sela-sela kunjungannya.

Wisatawan dari berbagai mancanegara tersebut diajak untuk mengetahui setiap proses pembuatan batik Semarang dari mulai dari penenunan kain, pemilihan bahan baku lilin, pencantingan, pengecatan kain dan perendaman kain batik hingga menjadi kain batik lembaran.

Cudie melanjutkan dirinya mengaku kagum dengan setiap proses pembuatan kain batik, dengan melihat para pekerja menenun kain yang memerlukan tenaga dan waktu ekstra untuk mengahasilkan kain dengan kualitas super. Kemudian pencantingan batik yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Membuat dirinya tertarik untuk ikut belajar membatik.

“Senang sekali bisa melihat pembuatan batik dari awal pembuatannya, dan saya kagum dengan para pengrajin batik yang bekerja keras dan ulet untuk membuat kain batik berkualitas,” jelasnya.

Kepala Sanggar Batik, Swuardi Tatag Sepanto mengatakan, Jateng merupakan pusat batik terbesar di pulau Jawa, tidak hanya batik asal Pekalongan, Jogja dan Solo yang menjadi ciri khas penghasil batik. Namun ibu Kota Semarang juga mampu menghasilkan batik yang menjadi khas Kota Atlas.

“Dengan adanya batik Semarang ini kita mampu mengenalkan ciri khas kota Semarang kepada para wisatawan domestik dan mancanegara melalui dengan menawarkan setiap proses pembuatan batik,” kata pria berkacamata ini.

Ia mengaku Sanggar Batik Semarang 16 sendiri didirikan untuk mengenalkan kepada masyarakat dan wisatawan, yang berkunjung untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan batik Semarang. Sanggar tersebut juga merupakan wadah bagi para wisatawan yang ingin belajar membatik.

“Kita juga menyediakan workshop bagi mereka yang ingin belajar membatik disini, beberapa kali seperti saat ini kita juga sering kedatang tamu dari mancanegara untuk melihat proses pembuatan batik,” katanya.

Lebih lanjut Tatag menceritakan Sanggar Batik Semarang 16 yang didirikan sejak tahun 2010 tersebut telah memproduksi batik dengan 250 motif. Dari ratusan motif batik tersebut merupakan motif asli dari Kota Semarang yang diambil dari setiap kelurahan yang ada.

Ciri khas motif batik tersebut dilihat dari letak geografis, sejarah serta keunikan dari setiap kelurahan. Bahan yang digunakan untuk pewarnabatik juga menggunakan bahan-bahan alami seperti dari kulit pohon tegeran, tingi dan mengkudu

“Motif yang menggambarkan kota Semarang seperti gedung Lawang Sewu, Tugu muda dan Pohon Asem itu khas Semarangnya. Kita juga memberikan motif-motif lain seperti flora dan fauna yang menjadi icon setiap kelurahan yang ada di Kota ini,” beber Tatag. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here