BERBAGI
Ilustrasi keberagaman gender (sumber: pixabay)
Ilustrasi keberagaman gender (sumber: pixabay)

Komunitas LGBT kerap ditolak saat melamar dan dipecat dari pekerjaannya.

Diskriminasi terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Indonesia masih sangat kentara. Kasus yang mencuat belakangan ini adalah sikap beberapa pemerintah daerah yang secara terang-terangan menolak keberadaan LGBT di wilayahnya seperti Kabupaten Cianjur melalui edaran tentang khotbah Jumat dan Kota Balikpapan yang hendak menggodok Peraturan Walikota.

Diskriminasi terhadap kelompok LGBT tak hanya menyebabkan persekusi, namun berdampak pada pemenuhan hak mereka, seperti hak untuk mendapatkan pekerjaan, seperti yang dialami Sekar (bukan nama sebenarnya, 48 tahun). Mulanya, Sekar adalah seorang dosen di sebuah universitas swasta di Jawa Timur. Kepada saya, Sekar menceritakan bahwa beberapa bulan lalu ia mengalami pemecatan sepihak dari tempatnya bekerja. Sekar enggan nama kampusnya disebut karena ia khawatir akan sulit mencari tempat kerja baru.

“Ya nggak ada alasan yang spesifik, tahu-tahu nggak boleh [ngajar] aja,” ujar Sekar.

Tentu saja Sekar terkejut dengan informasi pemberhentian dirinya, pasalnya dia sudah mengajar di kampus tersebut, dan tak pernah ada masalah. Apalagi hingga kini, Sekar tak menerima surat pemberhentian meski dirinya bukanlah dosen tetap, namun berdasarkan informasi yang beredar di kampusnya, ia diberhentikan karena Sekar merupakan seorang lesbian.

“Nggak pernah ngomong [bahwa seorang lesbian] tapi mereka sudah menduga, sudah banyak yang tahu dengan kegiatan saya ya,” tutur Sekar.

Awalnya Sekar tak mengerti penyebab kampusnya memberhentikan dia yang telah empat tahun mengabdi itu, tapi berdasarkan informasi yang beredar, Sekar dipecat setelah adanya pertemuan rektor se Jawa Timur untuk mewaspadai terorisme, ISIS, LGBT, dan feminisme. Pertemuan tersebut dilaksanakan tiga minggu sebelum perkuliahan semester baru di kampus, dan Sekar diberhentikan seminggu setelah kegiatan tersebut diselenggarakan. Padahal pada semester baru, nama Sekar sudah tercatat sebagai pengampu beberapa mata kuliah.

“Saya sebenarnya nggak tahu, saya berpikir keras kenapa, kepala jurusan dan dekan saya juga nggak tahu, dan mereka kebingungan cari dosen pengganti. Rektor yang memberi tahu kepala jurusan,” ujar Sekar.

Sekar tak menampik bahwa banyak temannya yang lesbian tak mudah menerima pekerjaan. Ia menceritakan banyak teman-temannya yang ditolak bekerja di perusahaan atau ketika melamar pekerjaan di sebuah perusahaan sebagai satpam. Pihak perusahaan berusaha mengetahui orientasi seksual mereka. “Kata mereka tidak boleh menerima yang LGBT,” ujar Sekar.

Sulitnya akses pekerjaan terhadap LGBT menjadikan Sekar khawatir saat diwawancara, sebab ia takut publikasi ini berdampak pada karirnya. Berbeda dengan Kenty Nur Wulandari, 30 tahun. Kenty merupakan seorang transgender perempuan. Kenty ditentukan sebagai laki-laki ketika lahir, dan memulai transisinya sekitar lima tahun lalu. Saat ini, ia bekerja sebagai operator produksi di sebuah perusahaan melamin chemical milik Taiwan di kawasan Jabeka 1.

“Mulai nunjukkin ekspresi gender perempuan kisaran 2013, 2012-2013, sudah kerja di pabrik, baru mulai, di situ kok nyaman dandan perempuan, saya ngerasa cantik, saya ngerasa perempuan. Mulanya menunjukkan dengan manjangin rambut,” kata Kenty.

Kenty bercerita memang tak mudah bagi dirinya untuk bisa diterima oleh perusahaan sebagai seorang perempuan. Saat awal Kenty memanjangkan rambutnya, ia sempat ditegur oleh bagian personalia perusahaan dengan alasan ia adalah seorang pria. Akhirnya, personalia itu membawa Kenty ke kepala perusahaan.

“Sampai depan mister itu, [saya bilang], ‘nanti saya nggak cantik kalau rambutnya pendek’, tapi orang asingnya [manager perusahaan] nggak ada permasalahan,” tutur Kenty.

Kenty prihatin dengan tingginya diskriminasi bagi kelompok LGBT dalam memperoleh akses pekerjaan. Padahal ekpresi gender itu tak mempengaruhi kinerja mereka.

Ia meminta masyarakat tak mendiskriminasi komunitas mereka karena orientasi seksual mereka. Karena mereka juga manusia yang membutuhkan pekerjaan untuk kehidupan mereka. Teman-temannya juga mempunyai kemampuan berpikir yang bagus, ia memuji beberapa temannya juga pintar. Ada beberapa yang tidak mempunyai pendidikan formal tetapi memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan yang berpendidikan.

Bagi Kenty, LGBT bukanlah penghambat mereka bekerja. Perbedaan mereka hanyalah orientasi seksual. Selama ini masyarakat menganggap laki-laki umum bersifat maskulin dan macho, sedangkan perempuan bersifat femnim dan anggun.

Dulu di depan keluarganya, Kenty tak pernah menunjukkan ekspresi seksualnya sebagai perempuan. Namun kini keluarganya menerima bahwa Kenty adalah seorang transgender. Bahkan Kenty kini menjadi tulang punggung keluarganya. Selain bekerja di pabrik, Kenty juga memiliki pekerjaan sampingan, yakni menjadi penyanyi di pesta-pesta pernikahan. Tak jarang tetangga di sekitar kontrakan dan rekan sekantornya pun mempercayakan hiburan di pernikahan mereka kepada Kenty. Sulitnya akses pekerjaan bagi LGBT membuat mereka akhirnya memilih pekerjaan non formal sebagai sandaran hidup. Maka tak jarang mereka akhirnya memilih untuk membuat salon, menjadi pengamen, atau menjadi PSK.

Diskriminasi LGBT di perusahaan
Tahun 2015 lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pernah melakukan penelitian berjudul “Pandangan Pekerja terhadap Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Jabodetabek: Study Kualitatif Pengetahuan sikap dan praktek pekerja mengenai LGBT. Dalam penelitian itu, ada beberapa pandangan yang menganggap bahwa LGBT dipengaruhi oleh lingkungan mereka. Dalam penelitian tersebut, padangan itulah yang menyebabkan adanya diskriminasi terhadap kelompok LGBT. Akibatnya, hingga kini LGBT belum mempunyai kesempatan yang sama di sektor-sektor formal, dan menerima hak penuh tanpa diskriminasi.

Sementara dari penelitian lain yang dipublikasikan oleh LBH Masyarakat pada Mei 2018, berjudul “Bahaya Akut Persekusi LGBT”, tertulis bahwa sepanjang tahun 2017 terdapat 973 orang yang menjadi korban dari stigma, diskriminasi, dan kekerasan berbasis orientasi seksual, identitas dan ekspresi gender. Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa masyarakat masih menganggap LGBT sebagai perilaku menyimpang, bahkan hal tersebut juga dilakukan oleh media dalam melakukan pemberitaan. Mereka menganggap LGBT merupakan kebiasaan yang menyalahi kebiasaan atau menyeleweng hukum, kebenaran, dan agama yang merupakan produk dari konstruksi masyarakaat.

Salah satu anggota tim peneliti dari LBH Masyarakat Naila Rizqi Zakiah mengungkapkan bahwa adanya stigma terhadap kelompok LGBT tersebut berpengaruh terhadap adanya pelanggaran HAM dan kekerasan lainnya, termasuk hambatan dalam akses pekerjaan. Yang menarik dalam penelitian tersebut, pelaku diskriminasi terbanyak selain dari organisasi masyarakat (ormas), justru dari Aparat Penegak Hukum (APH) yang seharusnya melindungi dan mengayomi masyarakat.

“Awal tahun ini kita mengadvokasi ada 2 orang gay yang ditangkap Satpol PP dari Jakarta, tapi berhasil dibebaskan,” tutur Naila.

Cerita soal diskriminasi LGBT di lingkungan pekerjaan juga sering didapat Naila dari komunitas, “Di Surabaya misalnya, ada seorang transpuan yang tidak bisa masuk pabrik karena penampilan feminim. Di ijazah dia laki-laki tapi kemudian tidak bsa masuk pabrik karena penampilan feminim,” ungkapnya.

Naila menjelaskan berdasarkan Undang-Undang Tenaga kerja Nomor 13 tahun 2003 secara jelas menyatakan bahwa pemerintah melarang adanya diskriminasi dalam bentuk apapun. Hal itu tercantum dalam pasal 32 ayat 1:“Penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi”. Sehingga melalui pasal ini seharusnya jelas bahwa tak ada alasan bagi perusahaan untuk melakukan diskriminasi terhadap LGBT. (PTK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here