BERBAGI
Launching Majalah Soeket Teki, Amanat Hadirkan Sastrawan Ahmad Tohari
Launching Majalah Soeket Teki, Amanat Hadirkan Sastrawan Ahmad Tohari

serat.id- Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang untuk kali pertama akan menggelar Launching Majalah Sastra Soeket Teki dan Dialog Sastra pada 6 Desember 2018 mendatang. Acara yang dikemas dalam dialog tersebut rencananya akan berlangsung di Auditorium I kampus 1 UIN Walisongo, Semarang.

“Launching majalah ini disertai forum dialog tentang sastra bersama sastrawan terkenal. Terbuka untuk mahasiswa dan umum,” kata ketua panitia, Mohammad Azam, Senin, 3 November 2018.

Menurut Azam, dalam peluncuran tersebut, Amanat akan mengenalkan kembali majalah sastra Soeket Teki sekaligus meluncurkan aplikasi amanat.id yang resmi berganti nama dari skmamanat.com menjadi amanat.id pada Workshop SKM Amanat Minggu (11/11/2018) lalu.

Azam juga menuturkan, akan menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di bidang sastra. Yaitu, Ahmad Tohari, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk yang terbit dalam berbagai bahasa. dan diangkat dalam film layar lebar berjudul Sang Penari.

Amanat juga menghadirkan Triyanto Triwikromo yang pernah dinobatkan sebagai tokoh seni pilihan Tempo tahun 2015.

Pemimpin Umum SKM Amanat, Fajar Bahruddin Achmad mengatakan kedua sastrawan tersebut dipilih karena keduanya merupakan sastrawan yang karya prosanya bergenre humanis.

“Sudah tentu, ketika berbicara karya sastra tentu akan berbicara pesan. Pesan apa yang akan disampaikan pada si pembaca. Selain itu, untuk mengenalkan pada generasi millenial, tokoh sastrawan yang perlu mereka katahui,” kata Fajar.

Tak hanya itu, peserta juga akan diajak berdiskusi mengenai sastra bersama kedua narasumber tesebut dalam sesi tanya jawab.

“Harapannya, forum bisa lebih komunikatif. Apalagi dalam sesi tanya jawab, peserta secara bebas dapat bertanya dan mendiskusikan mengenai perkembangan kesusastraan saat ini,” tambahnya.

Fajar menambahkan, acara tersebut mengangkat tema “Apa Kabar Kesusastraan Indonesia” lantaran melihat keberadaan sastra dewasa ini yang tidak tahu ke mana arahnya.

Menurutnya, karya-karya sastra era sekarang hanya berorientasi pada kepentingan pasar tanpa melihat eksistensi sastra yang memiliki tujuan kemanusiaan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here