BERBAGI
Lawang sewu dan pementasan tarian, dok PT KAI

Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij  sebagai Kantor Pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). 

Serat.id – PT Kereta Api Indonesia daerah operasional 4 Semarang, optimis pekan ini destinasi wisata Lawang Sewu akan dikunjungi 1 juta orang.  Gedung  Lawang Sewu yang dikelola PT KAI itu menjadi salah satu identitas di Kota Semarang yang selalu menjadi tempat jujugan wisata.

“Namun tak banyak yang tahu perjalanan gedung itu. Kami wajib menginformasikan publik agar paham tetang wisata sejarah,” kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Suprapto, Jum’at 21 Desember 2018.

Suprapto menyebutkan Bangunan Lawang Sewu dibangun pada 27 Februari 1904 dengan nama lain Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij  sebagai Kantor Pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). 

“Gedung itu pernah disewa perseorangan sebagai solusi sementara agar tetap berfungsi, namun justru menambah tidak efisien,” kata Suprapto menambahkan.

Menurut Suprapto, inisiatif pembangunan Lawang Sewu karena pertimbangan letak stasiun Samarang NIS berada di dekat rawa sehingga urusan sanitasi dan kesehatan pun menjadi pertimbangan penting.  Maka, diusulkanlah alternatif lain yaitu membangun kantor administrasi di lokasi baru.

Pilihan jatuh ke lahan yang pada masa itu berada di pinggir kota berdekatan dengan kediaman Residen. Letaknya di ujung Bodjongweg Semarang, sekarang Jalan Pemuda, di sudut pertemuan Bodjongweg dan Samarang naar Kendalweg  atau jalan raya menuju Kabupaten Kendal.

NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang.

Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903. Bangunan Lawang Sewu mulai dibangun pada tahun 1904, dan selesai pada tahun 1907.

“Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia,” kata Suprpto menjelaskan.

Menurut dia, Lawang Sewu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah Kementerian PerhubunganJawa Tengah.  

Pegiat sejarah Kota Semarang, saat diskusi dengan serat.id belum lama ini menyebutkan Lawang Sewu saksi bisu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang 14 Oktober  hingga  19 Oktober 1945.

“Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang,” kata Rukardi.

Rukardi menjelaskan banyak kisah dan kesaksian disampaikan para mantan penjuang di gedung itu.  Begitu berperanya Lawang Sewu  menjadikan Wali Kota Semarang mengeluarkan Surat Keputusan Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here