BERBAGI

Ilustrasi penerimaan toleransi, pixabay.com

Pelita mengecam keras cara pikir bahwa kebebasan beragama ditentukan oleh jumlah, sehingga hanya kelompok yang jumlahnya banyak yang bebas menjalankan agamanya.

Serat.id – Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) menyesalkan terjadinya sikap intoleransi antar sesama anak bangsa yang berupa pemotongan simbol salib di makam mendiang Albertus Slamet Sugihardi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jambon, Purbayan, Kotagede.

Pelita mengecam keras cara pikir bahwa kebebasan beragama ditentukan oleh jumlah, sehingga hanya kelompok yang jumlahnya banyak yang bebas menjalankan agamanya.

“Sedangkan kelompok yang jumlahnya sedikit dilarang bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinannya dan dilarang menunjukkan simbol-simbol agama yang ia yakini,” kata Koordinator Pelita, Setyawan Budy, dalam pernyataan sikap yang disampaikan, Jum’at 21 Desember 2018.

Budy menyatakan pemotongan simbol salib tak perlu terjadi karena keyakinan para pihak sama-sama dilindungi oleh undang-undang. Dengan begitu lembaganya mengecam keras pihak mana pun yang menggunakan tekanan fisik dan atau psikis. “Baik secara langsung maupun tidak langsung agar umat pemeluk agama yang berbeda takut untuk menjalankan ibadahnya,” kata budy menambahkan.

Ia meminta agar pemerintah, kepolisian, dan semua aparat terkait dari tingkat pusat sampai daerah melakukan upaya kongkret untuk melindungi kebebasan beragama tanpa pandang bulu sesuai amanah Pancasila dan UUD 1945. Hal itu dinilai penting agar sikap intoleransi seperti yang terjadi di Kota Gede tidak berulang lagi.

Selain itu Pelita juga mendorong tokoh-tokoh masyarakat untuk tidak diam saja di hadapan kelompok intoleran. “Tetapi terus mengedukasi masyarakat agar saling memahami dan menghargai keberagaman secara substansial,” katanya.

Pelita juga mengajak semua warga Indonesia menjadikan peristiwa itu sebagai pembelajaran  untuk mengokohkan semangat bhinneka tunggal ika.  Di sisi lain, Pelita berharap ada upaya sungguh-sungguh oleh warga di tiap daerah untuk menjalin jejaring erat antar elemen masyarakat lintas agama maupun  latar belakang agar dapat melakukan kerja bersama melindungi keberagaman.

Tercatat pada hari Senin 17 Desember 2018 terjadi peristiwa pemotongan simbol salib di makam mendiang Albertus Slamet Sugihardi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jambon, Purbayan, Kotagede.

Mendiang adalah warga beragama Katolik yang selama hidupnya dikenal akrab bergaul dengan masyarakat, termasuk menjadi pelatih paduan suara ibu-ibu di kampungnya di RT 53 RW 13 Purbayan.

Salib digergaji bagian atasnya hingga tersisa bentuk huruf T, sebelum pemotongan salib ada pesan dari seoarang tokoh masyarakat, agar pusara tidak diletakkan di tengah, tapi di pinggir pemakaman. Selain itu juga dilarang adanya doa dan upacara jenazah. Padahal rencananya keluarga menggelar doa arwah di rumah mendiang pada malam harinya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here