BERBAGI
Ilustrasi kebebasan, pixabay.com

“Sudah banyak orang bebas membully para kyai bahkan pimpinan negara sekalipun dilecehkan tanpa pandang bulu,”

Serat.id – Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang Jawa Tengah, KH M Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf, menyatakan saat ini masyarakat  dihadapkan pada era keterbukaan dan kebebasan berpendapat.

Namun ia menyayangkan kebebasan berpendapat itu kebablasan sampai pada membully tanpa berfikir nilai tata krama. “Sudah banyak orang bebas membully para kyai, bahkan pimpinan negara sekalipun dilecehkan tanpa pandang bulu,” kata Gus Yusuf, saat acara Halaqoh Ibu Nyai dan Perempuan Bangsa se-Jawa Tengah, akhir bulan Desember 2018.

Dengan fenomena itu Gus Yusuf  menyerukan jihad politik  untuk membangun kembali nilai budi atau akhlak. “Dan yang bisa menata ini kembali hanya peran ibu yang bisa,” ujar Gus Yusuf menambahkan.

Menurut Gus Yusuf, Pemilu 2019 tidak sekadar memilih sosok calon Presiden. Namun ia mengingatkan tentang menjaga nilai Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Selain itu Gus Yusuf juga berpesan untuk bijak  bersosial media menangkal hoax dan ujaran kebencian.

Sementara itu politikus perempuan, Ida Fauziyah, mengatakan pemilih perempuan pada tahun 2019 lebih banyak dibanding laki-laki. “Sehingga  untuk meningkatan kualitas Pemilu, wajar kalau PKB berharap banyak kepada perempuan,” katanya.

Ia mengingatkan agar perempuan menjadi garrda terdepan mengajak publik menjadi pemilh yang cerdas, menentukan caleg,  calon  Presiden dan  wakil presiden.

“Harapan itu lebih-lebih ditujukan kepada para ibu Nyai yang selama ini memdampingi masyarakat,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here