BERBAGI
serat.id

“Sebelumnya tak ada pembicaraan apa pun mengenai kerja sama.”

Serat.id – Penangung jawab media online serat.id, Edi Faisol, mengaku kecolongan dengan tayangan sejumlah berita yang diproduksi medianya muncul di laman teras.id. Edi mengaku kecewa dengan  pengambilan berita di media online yang ia kelola tanpa ada pembicaraan dan izin lebih dulu.

“Kami kecewa, sebelumnya tak ada pembicaraan apa pun mengenai kerja sama,” kata Edi Faisol, di kantor serat.id jalan Nakula Kota Semarang, Senin 7 Januari 2019.

Edi menjelaskan serat.id merupakan media milik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang yang kontennya sengaja dipublikasikan untuk umum. “Namun bukan berarti masyarakat dengan mudah mengcopy paste dan menayangkan lewat media mereka tanpa seizin pengelola, ” kata Edi menegaskan.

Tercatat teras.id  telah menayangkan sejumlah karya jurnalistik milik serat.id hingga belasan berita. Hal itu sebagai bukti pengelola teras.id tak punya etika karena menayangkan karya jurnalistik dari media lain tanpa izin maupun ikatan kerja sama.

Ia mengakui sebelumnya Pimred serat.id lama, Zakki  Amali pernah menginformasikan teras.id mengajak kerja sama. Namun sejak awal Edi menolak dengan pertimbangan teras.id merupakan milik PT Info Media Digital yang juga menerbitkan tempo.co.

Ketua AJI Kota Semarang  itu mengaku tak mau kerja sama dengan teras.id yang berjejaring dengan tempo.co. Pertimbangannya adalah moral, karena tak mau menggeser peran para koresponden tempo yang setiap saat menyuplai berita ke media itu.

Serat.id tak mungkin kerja sama  dengan teras.id yang kontennya bisa diambil tempo.co, sementara tempo.co punya koresponden. “Ini bertentangan dengan serat.id sebagai media alternatif yang didirikan oleh anggota AJI Semarang ,” kata  Edi menjelaskan.

Dengan bukti adanya pengambilan berita itu Edi minta agar teras.id meminta maaf secara terbuka. Hal itu dinilai penting agar tak menimbulkan salah paham antara pekerja media di daerah dan masyarakat luas.  Apa lagi hal ini terkait hak cipta yang seharusnya dihargai, di sisi lain Edi menilai media agregator seperti teras.id  justru akan merugikan pekerja media daerah, selain itu menurunkan kunjungan website yang kontennya diambil.  (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here