BERBAGI
Para siswa antusias mendengarkan pemaparan materi “Pencegahan Bullying”

Serat.id  – Maraknya  aksi bullying atau perundungan yang menimpa kalangan pelajar di sosial media (Sosmed)  sangat memprihatinkan. Keberadaan Sosmed yang seharusnya menjadi tempat bersosialisasi, saat ini justru disalahkgunakan sebagai tempat untuk merundung penggunanya.

“Cyberbullying itu kejahatan atau bentuk kekerasan yang dilakukan remaja melalui internet  terjadi ketika seorang anak, remaja atau bahkan orang dewasa menggunakan internet, email, pesanteks, dan pesan instan,” kata kata Psikolog asal Universitas Semarang (USM),  Fitria Linayaningsih, saat mengisi penyuluhan “Pencegahan Bullying” di SMP Masehi 1 PSAK Semarang, belum lama ini.   

Fitria menyebutkan kejahatan itu biasa dilakukan lewat  situs media sosial, forum online, chat room, atau teknologi digital lainnya. “Sifatnya untuk melecehkan, mengancam, atau mempermalukan orang lain,” kata Fitria menambahkan .

Menurut Fitria, efek dari cyberbullying cukup banyak, antara lain kemarahan, merasa terisolasi, depresi, hingga penyakit kejiwaan. Namun, aksi perundung dapat dicegah dengan cara asertif atau menyampaikan pendapat dan opini dengan cara yang tepat.

Cyberbullying juga dapat dicegah dengan cara proteksi akun pribadi dengan menghapus pesan dari orang yang tidak dikenal, blokir dan laporkan orang yang membuat tidak nyaman pada server internet.

Selain itu menghina atau mengejek secara langsung atau verbal maka pelaku bisa dikenakan Pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik. “Dengan ancaman sembilan bulan kurungan,”  kata Fitria menjelaskan.

Ia menyatakan perundung bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE Pasal 45 ayat 1, Pasal 27 ayat 3 Pasal 45 ayat 3 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik sebagaimana telah diubah oleh UU Nomor 19 Tahun 2016.

Kepala Sekolah SMP 16 Semarang, Yuli Heriani, mengatakan  setiap elemen sekolah, guru, siswa, dan kepala sekolah harus saling akrab antara satu dengan yang lain sebagai upaya  mencegah aksi perundung maupun cyberbullying.

“Keakraban itu bisa dijalin sejak kelas 7 sampai kelas 10 SMP. Misalkan di SMP 16 Sematang, melalui kegiatan OSIS, setiap anggota OSIS melakukan bimbingan pada tiap-tiap kelas,” kata Yuli.

Bimbingan tersebut bisa dilaksanakan setiap sore maupun setelah pulang sekolah di luar jam pelajaran akademik.

“Setiap Sabtu, halaman SMP 16 penuh siswa melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, semua alumni juga hadir untuk membimbing adik-adiknya,” katanya.

Menurut dia, jika saling mengenal dan akrab maka tidak ada yang namanya perundung maupun cyberbullying. Karena semua sudah ditangani oleh OSIS yang dipandu Kesiswaan, guru BK, serta guru-guru yang lain.  (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here