BERBAGI

Serat.id– Anggota Dewan Pers Nezar Patria menilai media massa yang tak profesional dan mengabaikan kode etik berpotensi menjadi ancaman bagi kebebasan pers di Indonesia.

Ilustrasi kebebasan pers. (Pixabay.com)

“Kalau kualitas media memburuk bisa jadi kebebasan pers mundur seperti masa Orde Baru,” katanya dalam workshop bertajuk “Profesionalisme Jurnalisme Menghadapi Hoaks” di Yogyakarta, Jumat 18 Januari 2019.

Workshop yang digelar di hotel Novotel itu dihadiri puluhan jurnalis media lokal dan nasional dari berbagai daerah. Dari Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Jember, Surabaya, Banyuwangi, Lumajang, hingga Malang. Selama dua hari, 19-20 Januari 2019, mereka sekaligus menjalani uji kompetensi jurnalis.

Menurut Nezar, Indonesia adalah kampiun kebebasan pers di Asia Tenggara. Dibanding Malaysia dan Singapura misalnya, media Indonesia lebih bebas memberitakan pemerintah. Sementara Thailand dan Myanmar dikendalikan junta militer, media di Filipina cenderung lebih bebas dan berkembang. “Tapi kekerasan jurnalis di Filipina paling tinggi,” katanya sebagaiman siaran pers yang diterima Serat.id.

Undang-Undang Pers nomor 40 tahun 1999, kata dia, adalah produk hukum revolusioner pasca reformasi 1998 dalam upaya melindungi kebebasan pers. Itu tercermin pada pasal 4 ayat 2, bahwa pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan atau pelarangan penyiaran. Dewan Pers, yang pada masa Orde Baru berfungsi sebagai rezim sensor, kini berubah menjadi rezim etik.

Ia mengatakan tunduk pada kode etik menjadi cara terbaik mempertahankan kebebasan pers. Meski tak ada konsekuensi hukum, -pada banyak kasus sengketa pemberitaan-kode etik mampu menyelamatkan jurnalis dari jeratan hukum.

“Hakim akan mempertajam putusannya jika wartawan tak mematuhi kode etik saat membuat berita,” katanya.

Cara berikutnya, jurnalis wajib profesional. Tugas utama seorang jurnalis melaporkan kebenaran (reporting the truth). Mereka memisahkan fakta dan opini, menghasilkan berita akurat, berimbang, serta independen. “Inti jurnalisme adalah disiplin verifikasi,” katanya.

Konsul Jenderal Australia di Surabaya Paul Zeccola mengatakan media memainkan peran penting dalam pembangunan masyarakat dan iklim demokratis. Media sekaligus menempati posisi penting dalam hubungan antarnegara.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here