BERBAGI
Juyono merupakan generasi ketiga pandai besi asal Mijen, Semarang. Produknya dipasarkan gingga Kalimantan, Sumatera dan Bali. (Foto Anindya Putri)
Juyono merupakan generasi ketiga pandai besi asal Mijen, Semarang. Produknya dipasarkan gingga Kalimantan, Sumatera dan Bali. (Foto Anindya Putri)

Karya Juyono dipasarkan hingga Sumatera, Kalimantan dan Bali.

Serat.id– Hanya bertelanjang dada, Juyono (60 tahun) berada di samping bara api. Kedua tangannya memegang penjepit batangan besi yang terpanggang. Besi itu ia bakar hingga merah menyala. Selanjutnya, Juyono buru-buru menyambar palu untuk menggecek besi itu hingga pipih.

Juyono adalah seorang pandai besi. Di masa senjanya, ia masih giat membuat alat-alat pertanian dan peternakan tradisional yang berasal dari besi.

“Sudah 40 tahun saya jadi pandai besi meneruskan usaha dari bapak,” ujar Juyono saat ditemui serat.id Minggu, 20 Januari 2018.

Juyono mengatakan, usaha yang dilakoninya saat ini bisa dibilang dari sang ayah, Karmin dan pamannya, Saujah. Keduanya merupakan yang pertama yang menjadi pandai besi di desa Mijen, Kota Semarang.

Juyono mulai bekerja sebagai pandai besi sejak tahun 1970-an. Saat itu ia masih berusia 20 tahun.

Saat itu, Juyono mengumpulkan besi-besi batang dari pengepul besi rongsokan. Besi itu jadi bahan baku pembuatan alat-alat pertanian seperti cangkul, arit dan parang.

Ia juga harus mencari arang terbaik untuk memabakar besi itu sebelum ditempa. Arang yang digunakan adalah arang pilihan dari kayu jati. Pada tahun 1970-1990 ia harus pergi ke hutan untuk mendapatkan kayu jati.

“Karena kalau pakai kayu lain kadang besi akan susah saat ditempa,” katanya.

Namun, untuk saat ini Juyono merasa kesulitan untuk mendapatkan arang dari kayu jati. Arang dari kayu jati makin langka dan mahal. Ia pun terpaksa memakai kayu-kayu biasa, sehingga proses penempaan besi makin lama.

“Kalau mau beli tinggal telepon, nggak harus pergi dulu ke hutan untuk cari kayu seperti jaman dulu,” katanya.

Lama pengerjaan untuk membuat arit, parang, golok dan cangkul cukup beragam. Meski demikian prosesnya melalui tahapan yang sama. Dari proses pembakaran besi, kemudian pendinginan dengan cara dicelupkan air hingga besi digecek dengan menggunakan palu besar. Tiga tahapan itu diulang-ulang hingga mendapatkan ketajaman yang diinginkan.

Juyono sempat memiliki empat sejumlah untuk menjalan kan usahanya itu. Dalam sehari mampu memproduksi hingga 40-50 biji alat. Namun, seiring perkembangan zaman, orang mulai tidak tertarik bekerja sebagai pandai besi. Sekarang, ia pun mengerjakan sendiri dan hanya mampu membuat maksimal 10 biji alat.

Untuk harga alat hasil buatan Juyono juga cukup beragam. Pada 1970-an harga arit Rp 3.500. Sekarang Rp 75.000. Sementara harga cangkulnya Rp 200-Rp 350 ribu.

Penjualannya pun telah sampai ke luar pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan dan Bali. “Alat yang saya buat saya beri nama KN III yang artinya Karmin Generasi Ketiga. Saya berharap kelak anak-anak saya juga akan meneruskan usaha ini,” katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here