BERBAGI
Nian Gao atau kue keranjang yang diproduksi keluarga Ong Eng Hwat di kampung Kentangan Tengah, Jagalan Semarang. Anin, serat.id

Menikmati kue keranjang lebih nikmat saat teksturnya masih lengket menempel bungkusnya.

Serat.id – Keluarga pembuat Nian Gao atau kue keranjang di Kota Semarang, Ong Eng Hwat, masih produknya dengan daun pisang sebagai pembungkus. Keluarga Ong sengaja mempertahankan bahan pembungkus alam itu  untuk mempertahankan cita rasa.

” Beberapa tahun terakhir kemasan kue keranjang kita bungkus pakai plastik agar lebih praktis, tapi kami tetap masih menggunakan daun pisang karena masih banyak juga konsumen yang meminta.  Katanya rasanya beda,” ujar Indriati, istri Ong Eng Hwat saat ditemui Serat.id pekan lalu.

Usaha kue keranjang yang ia lakoni sudah terjadi sejak turun temurun yang awalnya dirintis oleh sang Ibu, Kwe Mio pada tahun 1947 di kampung Kentangan Tengah, Jagalan Semarang. Kue keranjang merupakan sajian khas tahun setiap perayaan Imlek. Selain sebagai santapan, kue keranjang juga digunakan sebagai sesaji sembahyang warga Tionghoa saat perayaan Imlek.

Menurut Indriati, produksi  kue keranjang setiap memasuki Tahun baru Imlek selalu tinggi bahkan tahun ini keluarganya telah memproduksi 1 ton kue keranjang atau mencapai 3 ribu bungkus kue keranjang.

“Tahun ini pembuatan lebih banyak dari tahun kemarin karena ramainya pesanan, kami sajikan juga rasa bervariasi. Tidak hanya original, tapi ada enam varian rasa yakni Ori, vanilla, coklat, kacang hijau, durian dan Prambors,” kata Indriati, menjelaskan.

Ia menjelaskan, menikmati kue keranjang lebih nikmat saat teksturnya masih lengket menempel bungkusnya. Selain dinikmati dalam bentuk itu, Indriati memberikan resep kue keranjang bisa diolah kembali dengan digoreng dicampur adonan telur dan menambahkan taburan kelapa agar memberikan rasa gurih.

Seorang pekerja di bagian pengukusan kue keranjang milik Ong Eng Hwat, Rakijan, menyebutkan pengukusan kue keranjang dilakukan  selama 7 hingga 8 jam. Ia mengaku biasa memasukan kue ke dalam dandang untuk proses pengukusan.

” Selama proses pengukusan api tidak boleh padam, saya jaga  terus agar api tetap stabil. Pengukusan dimulai dari pagi hari, karena ada dua dandang dan harus bergantian untuk pengukusan,” kata Rajikin yang mengaku telah bekerja memproduksi kue keranjang sejak 40 tahun lalu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here