BERBAGI
Nurhadi-Aldo, Facebook

Banyak banyolan dalam postingan yang menghibur sebagia candaan politik. mulai banyak penggemar, meski  sebelumnya dikenal lewat postingan mengatasnamakan komunitas angka 10.

Serat.id – Nurhadi, 50 tahun warga asal Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, awalnya tak menyangka dengan kesibukan yang dialami beberapa hari terakhir. Pria tukang pijat itu kini sibuk memenuhi undangan sejumlah stasiun televisi dan diskusi dengan kaum muda kampus.

Nuhadi dikenal sebagai Calon Presiden nomor 10 koalisi Tronjal-Tronjol di dunia maya. Ia Berpasangan dengan Aldo tokoh fiktif,  Nurhadi – Aldo nomor 10. Pasangan Capres di media sosial menjadi hiburan di tengah publik menghadapi momentum Pemilu.

Banyak banyolan dalam postingan yang menghibur sebagia candaan politik. Ia mulai banyak penggemar, meski  sebelumnya dikenal lewat postingan mengatasnamakan komunitas angka 10.

Komentar candaan lewat komunitas angka 10 dengan sejumlah status yang menghibur  menjadikan perhatian publik di media sosial Facebook terhadap akun Nurhadi. Bahkan saat memunculkan ide dari para pengikutunya menjadi produk kaos dari status yang biasa diposting.

 “Saat itu Nizar salah satu pengikut di Jakarta minta buat kaos komunitas angka 10, bulan November,” kata Nurhadi, saat ditemui di rumahnya, akhir  Januari 2019 lalu.

Tak hanya itu, kaos yang dicetak dengan menngutip tulisan status angka 10 laris sangat laris dibeli pengikut. Bahkan seorang pengikut bernama Miko asal Tangerang beli baju tiga dibuat flox yang isinya promosi angka komunitas angka 10.

Dua pekan kemudian Edwin mahasiswa asal Yogyakarta menawarkan jadi Capres dunia maya yang diusung oleh koalisi Trojal Trojol. Edwin melengkapi “pencapresan” Nurhadi dengan akun media sosial, tak hanya facebook tapi juga instagram dan twiter.

Nurhadi awalnya bimbang dengan dengan tawaran Edwin yang menjadikan dia sebagai icon Capres dunia maya. “Dia bilang Capres hanya guyon (candaan). Saya sebenarnya tak mau pada waktu itu, kenapa harus saya yang lain bisa. Akhirnya justru muncul status Jika orang lain bisa kenapa harus saya,” kata Nurhadi mejelaskan.

Nurhadi mengaku mau menerima tawaran itu dengan catatan jangan melanggar agama,  negara dan menyakiti orang lain. Ia juga tak berpikir dengan adanya modus terselubung dari anggota komunitasnya yang baru akan ketemu fisik awal bulan februari itu.

Bagi Nurhadi berpikir positif untuk orang lain, ia menyerahkan aparat kepolisian jika pun ada yang berbuat kurang baik terkait Shitpost yang dibuat. “Percaya postif selama menawari kebaikan kita harus percaya. Konten sengaja dibikin sesuai karakter  materi status medsos banyolan-banyolan,” kata Nurhadi yang akrab disapa pakde oleh para pengikutnya itu .

Hasilnya “pencapresan” dalam Shitpost di dunia maya itu bisa diterima oleh masyarakat,  pengikutnya tak terbendung. Hal itu dinilai publik merasa butuh penyegaran, itu dibuktikan rata-rata tanggapan status banyolan Capres 99 persen merasa terhibur. “Mereka itu tak suka melihat serius,” katanya.

Meski tenar dengan ribuan pengikut nyaris menyamai akun pasangan Capres betulan, Nurhadi tak khawatir akun Capres Nurhadi Aldo menjadi gerakan Golput. Apa lagi ia memastikan telah mengingatkan pengikutnya tidak Golput.

“Orang Golput itu bingung tak punya pilihan,” katanya.

Ia menjamin tak tak mempropagandakan Golput, justru Nurhadi merasa tak enak dikira mendukung salah satu calon, karena sebelumnya telah membuat video ucapan selamat saat Jokowi usai dilantik menjadi presiden tahun 2014 lalu.

Uniknya akun Medsos pencapresan di Facebook, Instragram dan twiter dengan jumlah pengikut yang melebihi 500 ribu justru tak pernah ia buka. Ia mengaku hanya membuka instragram tiga kali. Sedangkan facebook dan twiter tak pernah dibuka. Nurhadi juga tak pernah konfirmasi status, ia sudah percaya karena telah memberi batasan agar status tak menyakiti orang lain dan melanggar negara.

Nurhadi mengaku tak begitu tertarik, meski begitu ia tetap mengontrol jika status dan tulisan di akun pencapresan mengarah ke pornografi. Termasuk kata akronim dildo yang diminta agar diganti, meski Nurhadi mengaku secara pribadi tak apa.

Pertimbangan menghapus kata dildo karena berhadapan dengan masyarakat luas. “Sebuatan itu tak baik, sekarang cukup Nurhadi Aldo,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here