BERBAGI
Situaasi diskusi RUU Permusikan dan Matinya Musik Indonesia, di Impala Space, Kota Lama Semarang . Tamam, serat.id

Ada kepentingan ekonomi besar yang hendak masuk seperti industri rekaman besar dan distributor rekaman.

Serat. Id– Pengajar hukum kampus Universitas Katolik Soegijapranata, Kota Semarang Donny Danardono, menilai Rancangan Undang-undang permusikan yangs edang dibahas di Senayan  dapat membatasi kreatifitas pemusik. Ia mengajak semua kalangan menolak RUU Permusikan tersebut.

“(Isi RUU) Mewajibkan pemusik ikut Uji Kompetensi sangat tidak relevan, itu dapat mematikan kreatifitas pemusik karena semua harus diukur,”  kata Donny, saat diskusi RUU Permusikan dan Matinya Musik Indonesia, di Impala Space, Kota Lama Semarang belum lama ini.

Donny menyebutkan di balik RUU ada kepentingan ekonomi besar yang hendak masuk  seperti industri rekaman besar dan distributor rekaman. “Dan mereka sudah mengawal RUU Permusikan sejak awal, sejak kelompok Konferensi Musik Indonesia datang ke DPR,”  kata Donny menambahkan.

Pelaku Musik asal Kota Semarang,  Gatot Hendraputra, menyatakan gagasan pencabutan RUU permusikan harus dikawal serius, hal itu karena kondisi masyarakat kadang kurang mengikuti.

“Masyarakat tidak pernah benar-benar tahu apakah nantinya RUU dibatalkan atau tidak. Ini yang menjadi masalah sebenarnya,” kata Gatot .

Ia menyebutkan selama ini  masyrakat menjadi bangsa yang pemaaf dan pelupa, hanya diiming-imingi nanti akan dicabut. “Dan kita tidak tau apakah nantinya benar dicabut atau tidak, makanya kita gencarkan diskusi ini,” kata Gatot menjelaskan.

Ia menyebutkan diskusi membahasa RUU permusikan ini tidak hanya di Semarang, namun juga di kota-kota lain untuk mengumpulkan banyak sudut pandang.

“Secara langsung atau tidak langsung kita bisa juga ikut mengontrol dengan ikut berserikat, dan ini salah satu cara kita untuk berkumpul,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here