BERBAGI

Serat.id-Berbeda dengan rumah singgah pada umumnya yang menampung anak-anak jalanan atau anak yatim piatu, Rumah Singgah Aira di Jalan kaba Timur Nomor 14 Kelurahan Tandang, Kota Semarang merupakan rumah singgah bagi anak-anak yang divonis mengidap HIV/Aids sejak dari lahir.

Maria Magdalena, pendiri Rumah Aira menggendong anak ODHA, 2 Maret 2019.
Maria Magdalena, pendiri Rumah Aira menggendong anak ODHA, 2 Maret 2019.

Pendiri Rumah Aira, Maria Magdalena Endah Sri menceritakan awal mula pendirian rumah singgah untuk anak-anak pengidap HIV/Aids itu. Stigma buruk masih melekat bagi para pengidap HIV/Aids atau yang sering disebut ODHA di mata masyarakat awam, seperti terjadinya penolakan dari anggota keluarga hingga lingkungan sekitar yang membuat mereka pada akhirnya harus dikucilkan.

Dari kejadian tersebut membuat Maria Magdalena atau yang kerap disapa Bu Lena tergerak hatinya untuk merawat dan membesarkan anak-anak ODHA. Ia juga gencar memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang penularan virus HIV dan pengidap HIV/Aids tidak seharusnya dihindari atau dikucilkan.

“Saya mulai gencar sosialisasi penularan HIV/Aids sejak tahun 2013, kemudian pada tahun 2015 saya mendirikan rumah Aira dan mulai merawat anak-anak ODHA,” Ujar Lena saat ditemui serat.id Sabtu, 2 Maret 2019.

Anak-anak ODHA yang dirawat Lena bersama relawan Rumah Singgah Aira berusia dari 14 Hari hingga 14 tahun, dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Anak-anak ODHA yang divonis HIV/Aids biasanya dikarenakan dari orang tua yang melakukan seks bebas. Seperti contoh kasus ayah dari sang anak yang sering bergonta-ganti pasangan atau sering jajan kemudian mengidap HIV dan menulari ibu dari anak, pecandu narkoba hingga pemandu karaoke. Ada juga ibu dari anak ODHA yang menjadi wanita tuna susila.

“Pernah waktu itu ada kejadian ibu baru melahirkan, meninggalkan anaknya yang divonis dokter mengidap HIV/Aids, saya dikabarin sama pihak rumah sakit saat itu juga saya pergi ke RS buat ambil si bayi karena orang tuanya gak mau ngurusin,” kata ibu beranak tiga ini sambil mengingat kejadian satu tahun silam.

Tak hanya memberikan fasilitas pendidikan, Rumah Aira juga memberikan fasilitas kesehatan seperti pengobatan untuk anak-anak ODHA. Lena mengaku menghidupi anak-anak ODHA yang diasuhnya melalui ngamen dari gereja ke gereja setiap minggu. Dari situ ia mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk kelangsungan hidup anak asuhnya.

Jalan yang dilalui Lena untuk merawat anak-anak ODHA tidaklah mudah. Ia sempat dianggap akan melakukan kristenisasi saat mencari rumah kontrakan yang akan dijadikannya sebagai rumah singgah, di salah satu daerah di Kota Semarang. Masa-masa kelam serta cibiran dari masyarakat telah banyak dilalui mendirikan rumah Aira.

“Dari situ saya tidak kecil hati. Malah memacu saya untuk lebih semangat menjelaskan niat baik saya untuk mengasuh dan merawat anak-anak ODHA serta menjelaskan kepada warga apa itu HIV,” katanya.

Lena melanjutkan saat ini terdapat lima anak ODHA di Rumah Aira. Ia mengaku belum bisa menampung lebih banyak anak-anak ODHA lantaran terbatasnya kamar yang ada di rumah singgah dan sempat menolak untuk menampung dua anak yang berasal dari Ungaran dan Pati.

Dari kelima anak asuh di Rumah Aira terdapat salah satu anak yang telah bersekolah, di salah satu Taman Kanak-kanak dan berbaur dengan anak-anak sehat lainnya tanpa adanya diskriminasi dari pihak sekolah atau masyarakat.

“Waktu saya daftarkan anak asuh saya, saya ceritakan kondisi si anak kepada pihak sekolah bahwa anak saya mengidap HIV/Aids, Saya berikan penjelasan penularan HIV/Aids tidak dari bersentuhan dengan kulit atau makan bersama. Puji Tuhan pihak sekolah bisa mengerti,” kata Lena.

Lena berharap Rumah Aira akan terus ada dan menjadi rumah bagi anak-anak pengidap HIV/Aids.

“Penderita HIV/Aids berhak hidup dan mendapatkan hak-hak hidup lainnya. Saya tidak ingin mereka dikucilkan atau didiskriminasi. Mereka sama dengan kita yang sehat, saya harap masyarakat bisa menerima ODHA dan hidup berdampingan ” kata Lena. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here