BERBAGI

Serat.id PT Kereta Api  Indonesia melengkapi kawasan stasiun Tawang Semarang dengan monumen lokomotif dan dancing fountain. Keberadaan dua fasilitas itu untuk melengkapi tampilan kota lama yang lebih eksklusif.

“Kami persembahkan monumen lokomotif dan dancing fountain ini kepada kota Semarang agar menambah daya tarik kawasan kota lama menjadi destinasi wisata, ” ujar Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, saatmeresmikan monumen lokomotif D30159 yang dihiasi dengan dancing fountain, di Polder Stasiun Tawang, Selasa, 26 Maret 2019.

Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama dengan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro meresmikan monumen lokomotif D30159 yang dihiasi dengan dancing fountain, di Polder Stasiun Tawang, Selasa 26 Maret 2019.
Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu bersama dengan Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro meresmikan monumen lokomotif D30159 yang dihiasi dengan dancing fountain, di Polder Stasiun Tawang, Selasa 26 Maret 2019.

Menurut Edi, lokomotif D30159 yang diproduksi oleh  Pabrik Fried Krupp Jerman dibeli oleh Djawatan Kereta Api (DKA) pada tahun 1962 sebanyak 80 buah. Lokomotif tersebut memiliki mesin diesel 340 HP dengan kecepatan 50 kilo meter per jam. Kereta itu  sempat beroperasi selama 52 tahun sejak tahun 1962 hingga tahun 2014.

Baca juga: Baru Diluncurkan, Okupansi Kereta Joglosemarkerto Mencapai 186 Persen

“Pada bulan April tahun 2014 lalu lokomotif ini dinyatakan sudah tidak siap operasi dan mangkrak di emplasemen  Depo Lokomotif Semarang Poncol,” ujar Edi menjelaskan

Menurut Edi Stasiun Tawang merupakan stasiun kedua yang memiliki monumen lokomotif setelah stasiun Tugu Jogja. ” Nah nanti, (kami berencana) di Poncol juga ada (akan dibuat monumen lokomotif), yang akan dibuat terang dan meriah, ”  kata Edi menambahkan.

Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengapresiasi pendirian monumen lokomotif. “Ini merupakan salah satu tambahan amunisi untuk kota lama Semarang, sehingga untuk wilayah stasiun Tawang sudah menjadi cantik dan bagus sehingga tinggal mengintegrasikan kawasan kota lama Semarang,” kata Hevearita yang akrab dipanggil Ita.  (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here