BERBAGI

Serat.id-“Saya mendapatkan stigma banyak sekali terhadap pemikiran-pemikiran saya. Judge liberal, sekuler, merusak Islam dari dalam. Saya juga pernah diadili dengan pandangan-pandangan saya yang tidak sama dengan yang lain”, ujar KH Husein Muhammad saat diwawancarai saat menerima penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa dari UIN Walisongo Semarang, Selasa 26 Maret 2019.

Kiai Husein menerima anugerah tersebut karena sumbangsihnya dalam menafsirkan gender. Apa yang diungkapkan pemimpin Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon itu membantah anggapan keliru yang menyebut laki-laki adalah penguasa atas pasangannya. Nyatanya, sebagai laki-laki, K.H. Husein menyadari bahwa ia juga menjadi korban atas ketidakadillan tradisi patriarki. Batasan tanggungjawab dan kewajiban laki-laki dan perempuan coba ia terabas hingga suatu hari Kiai Husein harus diadili oleh sejumlah kiai alumni Lirboyo, Kediri.

K.H. Husein Muhammad (tengah) menerima penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Tafsir Gender dari UIN Walisongo Semarang, Selasa 26 Maret 2019.

K.H. Husein Muhammad (tengah) menerima penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Tafsir Gender dari UIN Walisongo Semarang, Selasa 26 Maret 2019.

Sosok K.H. Husein Muhammad merupakan salah satu kiai yang gencar dalam kampanye pembelaan terhadap kaum hawa. Ia hanya segelintir kiai yang berani tampil di publik mengutarakan dengan lantangnya soal keadilan perempuan.

Realita Sosial

Gender kini menjadi isu yang diperbincangkan secara luas dan sengit di berbagai belahan dunia. Salah satu pertanyaan mendasar yang sering diajukan berkaitan dengan isu ini adalah apakah agama, khususnya Islam mengafirmasi relasi laki-laki dan perempuan sebagai relasi yang setara menyangkut hak sosial, budaya, dan politik politik mereka?

Menurut Kiai Husein, masyarakat harus memelihara semangat membangun generasi yang adil dan membangun kemanusiaan itu sendiri. “Karena ini merupakan salah satu misi profetik, misi yang diajarkan Nabi, yakni misi pembebasan manusia dari cengkeraman kebodohan dan penindasan,” kata lelaki yang akrab disapa Buya Husein itu.

Buya Husein mengungkapkan, masyarakat harus keluar diri zona patriarki dan menciptakan dunia baru yang berkemajuan dan berkeadilan.

“Bukan salat yang banyak dan zikir yang banyak saja, ketika kita membantu sesama manusia, maka itu merupakan puncak pengabdian kita kepada Tuhan”, katanya.

Menurut Buya Husein ada beberapa perubahan dalam dirinya. Husein muda ialah sosok pria tradisionalis, seorang fundamental yang hanya berpikiran secara tekstual. Tetapi begitu melihat fakta-fakta sosial terhadap penafsiran seorang perempuan ia lalu tersadarkan.

“Berangkat dari ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang kemudian dibenturkan dengan realita sosial sangat banyak untuk diulas. Memang yang lain hanya berkaitan dengan sejarah. Tetapi yang terkait dengan isu-isu sosial dan budaya hanya dua, isu perempuan dan perbudakan,” ungkapnya.

Dari Kiai Menjadi Aktivis

Kebanyakan dari para aktivis memulai karirnya secara aktif di masa mudanya. Dan menanggalkan sematan aktivisnya di masa tua mereka. Tapi lain halnya dengan Buya Husein. Pria kelahiran tahun 1953 ini justru mulai berkecipung di dunia aktivis pada tahun 1980-an.

“Di masa tua saya, saya justru banyak menemukan hal baru yang saya kira mendasar. Jadi dari situlah saya menyempurnakan isu-isu partikularnya. Saya baru mengenal isu gender pada tahun 1980-an. Itu juga saya ditantang oleh kenyataan, termasuk nanti akan berbicara tentang aurat perempuan, pemakaian jilbab yang erat kaitannya dengan budaya Arab”, tuturnya.

Buya Husein diangkat sebagai Ketua Komisi Nasional Perempuan, berawal dari usulan wartawan Kompas, Ninuk Mardiana Pambudi. Karena isu agama begitu sangat penting berkaitan dengan isu kekerasan terhadap perempuan. Sehingga harus ada orang yang ahli agama yang bisa menjawab persoalan-persoalan kekerasan perempuan atas dasar agama dan cara pandangnya.

“Tetapi tidak semua orang ahli agama mempunyai perspektif kesetaraan dan keadilan. Banyak sekali yang cara pandangnya masih bayes, karena pengetahuannya soal gender sendiri masih tidak paham. Saya menjadi ketua Komnas Perempuan dua kali. Bahkan andaikan dewan mengizinkan 3 kali. Saya akan maju tiga kali”, imbuhnya sambil tertawa.

Maraknya pelecehan seksual di kampus menurut Buya Husein karena adanya relasi kuasa,  bukan karena moralitas. Menurutnya, tidak dapat menjamin seorang agawan pun tidak melakukan pelecehan. Akar masalah pelecehan di mana-mana adalah relasi kuasa yang timpang. Tidak ada kategorisasi orang yang bermoral melakukan pelecehan.

Buya mengatakan, ia tidak semata-mata ada untuk membela perempuan, tetapi untuk membela keadilan. “Kebetulan sekarang budayanya budaya patriarki yang mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Feminisme itu adalah gerakan untuk membebaskan perempuan dari kekerasan dan subordinasi untuk menciptakan suatu keadilan. Hal ini sangatlah Islami menurut saya”, katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here