BERBAGI

Serat.id-Tahu menjadi salah satu makanan yang digemari masyarakat kalangan bawah hingga kalangan atas. Data Susenas menunjukkan rata-rata konsumsi tahu Indonesia sebesar 7,26kg/kapita/tahun.

Sebagai makanan bergizi yang harganya murah, pabrik tahu pun ada dimana-mana. Dan, pada umumnya pabrik tahu tergolong ke dalam pabrik skala kecil yang dikelola oleh rakyat.

Tim SMA Negeri 3 Semarang menunjukkan dompet yang terbuat dari limbah tahu,  Kamis, 4 April 2019. (KS)
Tim SMA Negeri 3 Semarang menunjukkan dompet yang terbuat dari limbah tahu, Kamis, 4 April 2019. (Istimewa)

Namun sangat disayangkan, ternyata masih banyak pabrik tahu yang masih membuang air limbahnya secara sembarangan keselokan atau sungai-sungai disekitar pabrik, sehingga dapat menimbulkan bau busuk, air tercemar dan berakibat buruk bagi kesehatan masyarakat sekitar.

Pada proses produksi, air banyak digunakan sebagai bahan pencuci dan merebus kedelai. Akibat dari besarnya pemakaian air pada proses pembuatan tahu, limbah yang dihasilkan cukup besar.

Pada saat ini sebagian besar industri tahu masih merupakan pabrik kecil yang belum dilengkapi dengan unit pengolah air limbah atau sistem anaerobik.

Besarnya konsumsi tahu mendorong menjamurnya industri produsen tahu yang sayangnya tidak diimbangi dengan lengkapnya sistem pengolahan limbah tahu yang sesuai.

Terdapat dua jenis limbah produksi tahu, yaitu limbah limbah tahu cair dan limbah tahu padat yang sering digunakan sebagai pakan ternak. Umumnya produsen tahu masih membuang limbah cairnya ke sungai karena belum memiliki teknologi pengolahan limbah yang dibutuhkan.

Padahal limbah cair tahu ini sangat berbahaya jika dibuang langsung ke badan air karena tingginya kandungan BOD dan COD serta asamnya pH sehingga menimbulkan bau, mengurangi kadar oksigen dalam air dan meningkatkan kekeruhan air.

Inilah yang melatari siswa kelas 10 SMA Negeri 3 Semarang mengubah limbah cair tahu menjadi dompet cantik yang dipadu dengan anyaman eceng gondok. Harganya pun untuk ukuran kecil Rp 95 ribu dan Rp 110 ribu untuk ukuran besar.

Azarin Kayla, siswa Kelas 10 SMA Negeri 3 Semarang menjelaskan, pembuatan dompet dimulai dengan mengolah limbah cair tahu diberi bakteri. Limbah pun berubah menjadi nata. Selanjutnya, nata pun dikeringkan. Nata kering yang berbentuk lembaran inilah yang kemudian siap diolah menjadi kerajinan seperti tas, dompet, tempat pensil dan sebagainya.

Agar rata, lembaran kering pun disetrika terlebih dahulu. Sedangkan agar tidak bau, lembaran nata direndam dengan kopi selama 10 jam.

“Produk ini selain memberi sumbangsih pada penyelamatan ekosistem sungai dari pencemaran limbah tahu, juga bisa mengangkat nilai budaya lokal dan tentunya ramah lingkungan,” ujarnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here