BERBAGI


Jurnalistik tidak bisa terpengaruh pada politik dan  konglomerasi perusahaan tambang

Serat.id – Nonton bareng Sexy Killers produksi WatchDoc di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI)  Kota Semarang dilanjutkan dalam diskusi. Salah satunya disampaikan oleh aktivis AJI Kota Semarang, Tomy Setiawan  yang menilai Sexy Killers sebuah karya jurnalitik dokumenter yang memihak ke kepentingan publik.

“Sexy killers menyajikan situasi tertentu tak hanya informasi singkat, tapi dokumenter jurnalistik yang memihak ke kepentingan masyarakat tertindas,” kata Tomy saat mengawali diskusi, usai Nobar di sekretariat AJI semarang, Kamis, 11 April 2019.

Ia menekankan kepada peserta diskusi dan Nobar bahwa di era digitalsiasi ini semua orang bisa menjadi jurnalis menyajikan informasi ke publik lewat media sosial. Dengan begitu ia berharap film Sexy Killers  bisa menjadi pembelajaran bagi publik lewat cityzen jurnalisme atau jurnalisme warga yang tampil secara kritis tak terbebani oleh kepentingan.

“Sebenarnya jika kita membuat karya jurnalistik secara etika harus netral, tetapi secara idelogis jurnalis harus berpihak ke kepentingan masyarakat,” kata Tomy menambahkan.

Dengan sikap jurnalisme itu Tomy menyatakan jurnalistik tidak bisa terpengaruh pada politik dan  konglomerasi perusahaan tambang yang ternyata aktornya bagian dari sistem politik yang hendak dipilih lewat pemilihan umum 17 April mendatang.

Di sinilah, menurut Tomy  perbedaan sikap karya jurnalsitik yang tak nyiyir tapi lebih mengutamakan nilai-nilai kritis. “Nyiyir tak berdasar sedangkan kritis berdasarkan fakta dan data kuat,” katanya.

Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (walhi) Jawa Tengah, Fahmi Bastian, menyatakan Sexy Killers sebagai bukti nyata kepilauan  korban pembangunan produksi daya listrik. “Padahal di Jawa kita akan kelebihan daya listik,”  kata Fahmi.

Ia menilai Sexy Killers salah satu langkah menyuarakan kondisi kerusakan lingkungan dan hak-hak masyarakat. “Menyuarakan kepentingan masyarakat dari pada individu  dan korporasi,” kata Fahmi.

Menurut dia, beberapa hal di film itu menjelaskan tentang tata nilai termasuk bijak memanfaatkan listrik. Sedangkan Indonesia penghasil batu bara nomor dua di dunia, dan harganya sedang naik sehingga menjadi sangat sexy untuk bisnis.

“Di belakang listrik yang kita pakai ada ribuan masyarakat yang dirugikan,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here