BERBAGI

Serat.id– Mata Jumiyatun sembab, Kamis, 9 Mei 2019. Pagi itu ia menjadi saksi penggusuran rumah di Tambakrejo, Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang. Sejumlah alat berat tampak merobohkan bangunan rumah yang berdiri di bantaran sungai kalibenger. Satu diantaranya adalah rumah milik Jumiatun.

“Saya tinggal di sini hampir dua puluh tahun. Sekarang rumah saya dirobohkan, dihancurkan dan diratakan hingga tanah sama pemerintah. Mereka kejam,” kata Jum.

Warga Tambakrejo menghadang alat berat yang akan merobohkan bangunan rumahnya pada Kamis 9 Mei 2019. (foto serat.id/Anin)

Warga Tambakrejo menghadang alat berat yang akan merobohkan bangunan rumahnya pada Kamis 9 Mei 2019. (foto serat.id/Anin)

Mulutnya tak henti-henti melafazkan nama Allah sambil menitikkan air mata. Tapi apa daya, puluhan rumah warga Tambakrejo telah digusur. Tangisnya menjadi tak berarti di tengah deru eskavator yang beradu dengan rumah warga.

Proses penggusuran melibatkan ratusan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Warga diminta segera angkat kaki dari rumah dan mengemas seluruh barang.

Sebelum anggota Satpol PP datang, Jum sempat kaget listrik tiba-tiba padam saat hendak menanak nasi. Tak selang beberapa lama pintu rumahnya diketuk oleh seorang petugas. Petugas itu meminta Jum untuk memberesi perabotan karena akan dilakukan penggusuran.

Baca juga: LBH Semarang Sayangkan Penggusuran Warga Tambakrejo

“Saya kaget badan saya langsung lemas seperti gak ada tulangnya. Ini mau digusur lagi, ” terang Ibu yang kini punya delapan cucu itu.

Tak ada hitungan, barang-barang warga Tambakrejo mulai berserakan di depan rumah. Satu persatu perabotan rumah di keluarkan. Tangisan para ibu dan anak-anak menyayat hati siapapun yang berada saat proses penggusuran itu berlangsung.

Saat penggusuran, mahasiswa dan warga Tambakrejo mencoba menghadang eskavator yang akan masuk ke dalam kampung. Adu Fisik antara warga dan Satpol PP juga tak terelakkan. Teriakan warga makin histeris ketika eskavator merangsek menuju bangunan musala dan TPQ. Dua banguna itu adalah sarana belajar bagi anak-anak Tambakrejo.

“Ini bulan puasa , kenapa masih saja pemerintah tega menggusur saat bulan suci seperti ini. Sekarang tempat ibadah juga mau dirobohkan,” kata Jum lirih.

Jum mengaku belum mendapatkan ganti rugi sebagaimana dijanjikan pemerintah Kota Semarang. Uang senilai Rp 1,5 juta dan lahan yang dijanjikan itu tanpa kabar. Namun hingga eksekusi penggusuran, iming-iming ganti rugi belum dirasakan warga Tambakrejo yang memilih bertahan di kampung nelayan tersebut.

Baca juga: Komnas HAM Sebut Penggusuran Tambakrejo Melanggar Kesepakatan

Rusunawa yang ditawarkan pemkot juga tidak menjadi pilihan warga untuk beranjak dari Tambakrejo. Rusunawa dianggap warga jauh dari laut. Sementara mayoritas warga Tambakrejo adalah nelayan.

“Kalau harus pindah ke rusunawa saya juga tidak mau mata pencaharian suami saya ada di sini. Sekolah anak saya juga ada di sini,” katanya.

Hingga saat ini warga tambakrejo masih bertahan di puing-puing bekas rumah mereka. Warga ada yang bertahan dengan mendirikan tenda darurat di bawah jembatan fly over. Sebagian lagi ada yang memilih mengungsi ke kampung sebelah atau ke sanak keluarga di sekitaran Tambakrejo. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here