BERBAGI

Serat.id – Vihara Avelokitesvara Sri Kukus Redjo atau yang dikenal dengan Vihara Gunung Kalong merupakan tempat sembahyang umat Buddha.

Vihara  Avelokitesvara Sri Kukus Redjo di desa Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang.  (foto Anindya Putri/ serat.id)
Vihara Avelokitesvara Sri Kukus Redjo di desa Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang. (foto Anindya Putri/ serat.id)

Yang unik dari Vihara ini yakni berada di puncak Gunung Kalong dengan ketinggian 472 meter di atas permukaan laut (mdpl). Vihara ini memiliki patung Dewi Kwan Im setinggi 7 meter di yang berdiri di pelataran.

Vihara Gunung kalong berada di desa Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang. Berada di puncak gunung, Vihara Gunung Kalong menyuguhkan pemandangan nan cantik lantaran dikelilingi hutan pinus Penggaron dan juga pemandangan daerah Ungaran serta Tol Semarang- Bawen yang membelah hutan pinus.

Tidak hanya itu, suasana sejuk dan jauh dari hiruk pikuk kota menambah kekusyukan umat Buddha untuk sembahyang.

Penjaga Vihara Avelokitesvara Gunung Kalong, Warno menuturkan, menjelang perayaan hari Raya Tri Suci Waisak 2863. B.E /2019 yang jatuh pada 18 Mei, Vihara Gunung Kalong tidak memiliki perayaan khusus. Namun, biasanya umat Buddha akan berkunjung untuk berdoa dan meditasi saat tengah malam.

“Karena ini Vihara kecil kita tidak ada perayaan khusus, tapi umat tetap datang untuk berdoa dan meditasi,” kata Warno saat ditemui Serat.id, Senin, 13 Mei 2019.

Warno menjelaskan untuk persiapan perayaan Waisak biasanya umat dan pengurus akan membersihkan Vihara Gunung Kalong. Setelah itu dilanjutkan dengan doa bersama. Umat vihara berjumlah ratusan berasal dari berbagai daerah di Kabupaten dan Kota Semarang.

Ia menambahkan, Vihara Gunung Kalong biasanya melakukan perayaan besar saat hari lahirnya Dewi Kwan Im. Yakni Hari ke-19 bulan ke-6 atau La Gawe Cap Kaw. Menurut kepercayaan umat Buddha hari tersebut merupakan hari kesempurnaan yang dipercaya hari baik untuk berdoa dan sembahyang.

“Saat hari lahirnya Dewi Kwan Im kita bikin doa bersama semacam slametan. Di hari itu juga banyak umat yang datang karena itu merupakan hari Kesempurnaan bagi kita,” kata Warno.

Patung Dewi Kwan Im di pelataran Vihara Avelokitesvara Sri Kukus Redjo di desa Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang. (foto Anindya Putri/ serat.id)

Usia Vihara Gunung Kalong kini 54 tahun, vihara yang berdiri sejak tahun 1965 didirikan oleh DjojoSoeprapto. Jika masuk ke dalam Vihara terdapat puluhan lilin berwarna merah yang berukuran besar dan memiliki tinggi berkisar 2 hingga 3 meter.

Lilin raksasa dipasang sebagai tanda syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Sang Hyang Widhi kepada umat Buddha selama menjalani kehidupan.

“Dengan menyalakan lilin setiap sembahyang dipercaya akan menerangi jalan hidup setiap manusia serta dengan nyala lilin tersebut merupakan perwujudan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan,” kata Slamet Riyadi, yang sedang berdoa di Vihara Gunung Kalong.

Menurutnya, Umat Buddha percaya dalam melakukan sesuatu setiap harinya menginginkan sesuatu jalan yang terang, yang mudah. Lilin diyakini sebagai simbol dari cahaya atau penerangan batin yang akan melenyapkan kegelapan batin dan mengusir ketidaktahuan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here