BERBAGI
Slamet, menunjukkan miniatur Candi Gedongsongo berbahan dasar eceng gondok.
(Foto : Istimewa/Serat.id)

Serat.id– Satu persatu, anyaman dari Eceng Gondok beragam bentuk ditata sedemikan rupa. Dari bujur sangkar, piramida besar, piramida kecil dijadikan satu menggunakan lem. Jadilah miniatur Candi Gedongsongo.
Untuk fisnishing, agar mengkilap dan tahan lama, dikuas dengan larutan insektisida maupun fungisida. Dengan penguasan tersebut, diharapkan zat-zat insektisida dan fungisida meresap ke dalam substrat eceng gondok sehingga membuat material tersebut tidak bisa ditumbuhi lagi oleh jamur maupun diserang hama serangga.

Tak hanya miniatur Candi Gedongsongo. Ada kerajinan dari eceng gondok yang dibuat oleh Slamet Tri Amanto (44) warga RT 4 RW 9 Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Ada sofa, lokomotif kereta api kuno, tempat tisu, meja, kursi, rak buku, keranjang, tas, miniatur harley davidson, mobil-mobilan, topi, sandal, tempat sampah, tudung saji, dan tank.

Suami dari Diah Eko Sari (41) dan bapak dari Hafidzah Isnaini (18) dan Haura Tria Safiya (10) itu menuturkan perjalanannya membuat beragam kerajinan dari eceng gondok yang sudah ia kirim hingga Malaysia, Singapura, dan Dubai. Menurutnya, setiap hari, 2.000-an petani di Kawasan Rawa Pening memetik dan menjual Eceng Gondok ke pengepul-pengepul dengan harga Rp 12 ribuan per ikat besarnya untuk eceng gondok basah. Eceng gondok itu oleh para pengepul dikeringkan dan dijual kembali ke Solo dan Yogyakarta.

Di dua kota itu, eceng gondok kering dibuat beragam kerajinan anyaman. Lho, mengapa bukan warga sekitar Rawa Pening yang membuat? Kalimat itulah yang membuat Slamet pulang dari merantau di Jakarta kembali ke kampung halamannya pada 2003 menumpang mobil bok bersama istri dan anaknya.

Bermodalkan uang Rp 60 ribu, Slamet mulai membuat kerajinan eceng gondok. Uang itu ia belikan gunting, kater dan lem setelah kemudian ikut program padat karya. Bukan karena mencari ilmu, tetapi karena memang belum memiliki modal, Slamet memutuskan puasa 40 hari.

Setiap hari, ia mengutak-atik eceng gondok. Beberapa kerajinan pun berhasil diciptakan. Seperti tempat kartu nama. Untuk memasarkan karyanya, Slamet harus berjalan kaki ke Museum Kerata Api di Ambarawa yang jaraknya mencapai 10 kilometer lebih.

“Eceng gondok belum dimanfaatkan maksimal. Justru Solo dan Yogya yang menikmati hasil lebih. Selama ini, warga di sekitar Rawa Pening hanya sebagai pencari dan pengepul. Pelatihan pemanfaatan yang diberikan pun tidak ada tindak lanjutnya. Padahal, pemberdayaan sumber daya manusia (SDM) jauh lebih penting dari pada pembangunan fisiknya yang cenderung mudah rusak,” paparnya.

Berdayakan Kaum Difabel

Slamet menunjukkan kerajinan eceng gondok di tempat produksinya,  
RT 4 RW 9 Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang .
Slamet menunjukkan kerajinan eceng gondok di tempat produksinya,
RT 4 RW 9 Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang .
(Foto : Istimewa/Serat.id)

Dari pelatihan yang selama ini digelar dan ia ikuti, instansi pun mengambil orang yang salah dan tidak memiliki motivasi. Ketika ada pelatihan lanjutan, yang berangkat pun sudah berbeda orang lagi. Sehingga, pelatihan yang ada selalu dimulai dari nol. Tidak berkelanjutan.

Ia pun secara mandiri, mengajak ibu-ibu di kampung sekitar untuk memanfaatkan eceng gondok sebagai kerajinan. Metodenya pun bukan memberi pelatihan. Ibu-ibu mendapatkan honor dari membuat anyaman eceng gondok berbentuk lembaran, tali hingga bentuk segitiga sebagai bahan dasar membuat miniatur Candi Gedongsongo melalui sebuah kelompok yang kini beranggotakan 30-an orang.

Tak hanya itu, anak-anak muda di kampungnya pun tidak sekadar dilatih. Tetapi, ketika selesai merangkai anyaman-anyaman eceng gondok menjadi sebuah handycraft, Slamet memberikan imbalan. Bahkan, ketika diundang ke berbagai daerah untuk seminar maupun workshop eceng gondok, para pemuda itu diajak. Dan sesekali menggantikan dirinya sebagai pembicara.

“Honor menjadi pembicara menjadi modal kami untuk pengembangan usaha dan memberikan pelatihan sekaligus pendampingan yang intensif,” tandasnya.

Tak hanya kalangan ibu, Slamet juga memberdayakan kaum difabel di
Jumo, Temanggung dan di Purwodadi untuk membantu membuat anyaman sebagai bahan dasar membuat kerajinan. Honor mereka diberikan Slamet setelah produk mereka dikirim ke tempat tinggalnya yang ia ubah menjadi tempat usaha.

Setiap hari, Slamet didampingi enak anak muda dari desanya. Selain membantu menyelesaikan produk, mereka juga mendapingi kelompok ibu-ibu maupun kaum difabel di Temanggung dan Purwodadi untuk membuat produk dan bentuk baru berbahan dasar eceng gondok. Bahkan, ada pula yang menjadi pembicara pelatihan atau seminar, ketika Slamet tidak bisa datang secara langsung.

Bagi Slamet, metode pemberdayaan justru mempercepat upaya pengentasan kemiskinan yang akhir-akhir ini sedang diupayakan angkanya menurun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia pun berharap, dana desa yang dikelola pemerintah desa, bisa dialihkan untuk pemberdayaan masyarakat. Khususnya desa-desa di Kawasan Rawa Pening.

“Dana desa tidak harus selalu untuk fisik. Tetapi bisa untuk program pemberdayaan masyarakat. Karena, membangun SDM itu lebih penting, sebagai pembentukan karakter paling mendasar bagi manusia,” ujarnya.

Slamet juga berharap, baik kepada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo maupun para bupati dan walikota di Jawa Tengah untuk membeli produk-produk yang dihasilkan masyarakat. Salahsatunya, produk kerajinan anyaman eceng gondok produksinya.

“Setiap kabupaten atau kota, ada berapa dinas, dibawahnya juga ada lembaga atau badan. Kalau membeli produk kami, berapa orang yang akan terangkat kesejahteraannya. Plakat yang selama ini dibuat dari mika atau batu, bisa diganti dengan plakat yang terbuat dari eceng gondok,” jelasnya.

Belum lagi, perusahaan-perusahaan yang ada di Jawa Tengah. Jumlahnya sudah ribuan. Jika pemerintah mewajibkan perusahaan-perusahaan itu membeli produk kerajinan warga, tentu, angka kemiskinan bisa cepat diturunkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here