BERBAGI

Siti Alfijah, Aktivis Syarikat ’98 Jawa Tengah

Selasa, 12 Mei 1998.

Hari masih pagi. Matahari belum lagi tinggi. Tapi, aktivis Gerakan Mahasiswa IAIN Walisongo telah bersiap diri. Gelombang massa-aksi segera merapat ke Kampus Tiga yang dijadikan pusat aksi. Orasi telah dimulai. Jiwa muda massa-aksi terasa bergolak demi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Reformasi!!! Reformasi!!! Reformasi!!!

Massa-aksi merangsek turun menuju jalan raya, hendak menjemput massa-aksi yang berada di Kampus Dua dan Kampus Satu lalu lanjut longmarch menuju Gedung Berlian untuk bergabung bersama aktivis Gerakan Mahasiswa dari kampus-kampus yang lainnya. Tidak disangka, aparat keamanan lengkap dengan tameng dan pentungan telah baris berlapis-lapis di gerbang Kampus Tiga untuk menghadang massa. Entah siapa yang memulainya, faktanya, aksi saling dorong terjadi begitu saja. Pada akhirnya, massa-aksi berhasil tumpah-ruah ke jalan raya setelah berhasil menerobos blokade mereka.

Sayangnya, upaya longmarch kembali terhadang oleh blokade kedua. Pimpinan aksi terus berupaya mengendalikan kepemimpinan massa. Aksi saling dorong semakin sengit saja. Tiba-tiba, entah ulah siapa, satu dua butir batu ukuran kecil melayang di udara. Gas air-mata segera ditembakkan untuk membubarkan massa. Pedih terasa. Tameng dan pentungan turut ambil bagian juga. Situasi makin menggila, ketika terdengar teriakan di tengah-tengah massa, “Ada yang terluka. Ada yang tertusuk pisau belati aparat di perutnya!” Seorang mahasiswa Fakultas Tarbiyah yang bernama Achmad Syafruddin tampak terhuyung dan segera ditolong oleh sesamanya. Darah segar keluar dari perut sebelah kirinya. Sementara, lima orang aktivis mahasiswa lainnya, terkena pentungan dan terluka di bagian kepala.

Sejurus setelahnya, massa-aksi berlarian tunggang langgang menyelamatkan diri menuju ke Kampus Tiga dan ke perkampungan warga. Sebagian massa yang semula tetap bertahan melanjutkan aksi di jalan raya, tak urung membubarkan diri juga. Sore harinya, sebagian kecil massa-aksi yang masih berada di Kampus Tiga, turun kembali ke jalan raya, membakar ban-ban bekas sumbangan warga, kemudian berjalan kaki hendak pulang ke kediamannya. Sempat terjadi aksi saling hina dengan sebagian aparat keamanan yang ternyata masih siaga berjaga, namun aksi tersebut tidak berlanjut dan segera mereda.

Dari seluruh aksi reformasi yang berlangsung di Kota Semarang sepanjang tahun 1998, Insiden Berdarah IAIN Walisongo itulah yang tercatat sebagai satu-satuya peristiwa yang paling heroik, sehingga sehari setelahnya, Koran Suara Merdeka menurunkan berita di halaman utama dengan judul, “Hujan Batu di IAIN, 6 Luka Parah”. Karenanya, tidak berlebihan kiranya, jika sebagian aktivis Gerakan Mahasiswa IAIN Semarang beranggapan bahwa siapapun dia, yang pernah tercatat sebagai mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, sudah selayaknya menyimpan rasa bangga terhadap almamater dan kampusnya. Pasalnya, dalam peta sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia, IAIN Walisongo tercatat sebagai salah satu Kampus Reformasi 1998 yang mempunyai andil besar dalam menumbangkan kediktatoran Rezim Jenderal Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun di Indonesia.

Mei 1998; Momentum Bersejarah

Sebagaimana diketahui bersama, Gerakan Mahasiswa di Indonesia telah menemukan momentum pentingnya pada tahun 1998, di mana kekuasaan rezim Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto mengalami tekanan luar biasa dari berbagai komponen bangsa, utamanya dari kalangan aktivis Gerakan Mahasiswa. Tekanan terhadap rezim Orde Baru antara lain dilatarbelakangi oleh memburuknya situasi ekonomi Indonesia yang terkena imbas krisis ekonomi di Asia. Selain itu, dipicu juga oleh maraknya praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang telah merasuki seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, serta terpilihnya kembali Jenderal Soeharto sebagai Presiden RI pada Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (SU MPR) 1998.

Akibatnya, pasca SU MPR 1998, eskalasi politik nasional semakin memanas karena harapan masyarakat telah pupus. Suksesi di tingkat kepemimpinan nasional tidak terwujud. Hal-hal inilah yang menjadi bahan bakar bagi massifnya Gerakan Mahasiswa di seluruh kampus di Indonesia. Penuh sukacita, aktivis Gerakan Mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan atas Reformasi Nasional di segala bidang kehidupan.

Gerakan Reformasi di Semarang

Aksi Reformasi yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia, juga dilakukan oleh segenap aktivis Gerakan Mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Semarang. Tentu saja, aktivis Gerakan Mahasiswa IAIN Walisongo tidak pernah ketinggalan untuk ambil bagian, dan bahkan menjadi salah satu pelopor perjuangan, di manapada medio awal bulan Februari 1998, sekitar 150 mahasiswa dari Undip, IAIN Walisongo dan IKIP Semarang melakukan aksi keprihatinan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Gedung Berlian). Sebagaimana diberitakan oleh Harian Suara Merdeka edisi Minggu 15 Februari 1998, halaman 2, setelah terjadi upaya negosiasi, maka 50 orang delegasi mahasiswa diterima oleh anggota dewan di Ruang Serbaguna lantai I.

Sekedar catatan, Gerakan Reformasi yang digulirkan oleh aktivis mahasiswa di Semarang terhitung agak terlambat jika dibandingkan dengan gerakan serupa yang telah terjadi di berbagai kampus di kota-kota lain, terutama Yogyakarta dan Jakarta. Pasalnya, pada waktu itu, kalender akademik kampus-kampus di Semarang bertepatan dengan liburan semester, sehingga mayoritas mahasiswa sedang menghabiskan masa liburan di kampung halamannya. Dengan demikian, koordinasi dan konsolidasi untuk merespon krisis ekonomi serta isu nasional lainnya, terlambat dilakukan.

Selanjutnya, Gerakan Reformasi di Semarang semakin bergeliat, ketika memasuki bulan Maret 1998, diawali dengan aksi unjuk rasa dan aksi mogok makan oleh mahasiswa IAIN Walisongo. Massa-aksi menunjukkan rasa keprihatinan atas lonjakan harga-harga kebutuhan pokok sebagai akibat dari krisis moneter. Massa-aksi membentangkan poster bertuliskan, “Jangan Gantung Nasib Rakyat Demi Ambisi dan Gengsi”.Terkait hal ini, Harian Suara Merdeka edisi Rabu 4 Maret 1998, halaman 2, menurunkan berita berjudul “Mahasiswa IAIN Gelar Aksi”. Setelahnya, giliran mahasiswa Fakultas Sastra Undip menggelar aksi keprihatinan, dilanjutkan dengan aksi serupa dari aktivis Gerakan Mahasiswa dari berbagai kampus yang berada di Semarang.

Gerakan Reformasi semakin bergulir kencang memasuki bulan April 1998. Tuntutannya tidak lagi sekedar penurunan harga-harga kebutuhan pokok, namun telah merambah di bidang politik yaitu reformasi kepemimpinan nasional.

Perlu diketahui, saat itu, aktivis Gerakan Mahasiswa di Semarang tidak hanya menggulirkan isu nasional seperti krisis ekonomi dan reformasi politik saja, tetapi juga menyentuh isu lokal yang sedang menghangat di kalangan masyarakat yaitu pemilihan Gubernur Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa aktivis Gerakan Mahasiswa di Semarang tidak terjebak dalam pengelolaan isu nasional saja, tetapi juga mempunyai kekayaan wacana yang unik, yang jarang dimiliki oleh aktivis Gerakan Mahasiswa di kampus-kampus di kota lainnya. Isu lokal ini berkembang cukup dinamis di kalangan aktivis Gerakan Mahasiswa di Semarang karena Semarang merupakan ibukota propinsi Jawa Tengah, sehingga pengelolaan isu pilkada Gubernur menjadi lebih efektif untuk menjaga soliditas di kalangan massa-aksi.

Memasuki bulan Mei 1998, eskalasi perpolitikan nasional dan daerah semakin memanas. Gerakan Reformasi tidak terbendung lagi. Tuntutan adanya reformasi total di segala bidang, semakin santer terdengar. Aktivis Gerakan Mahasiswa semakin meningkatkan intensitas aksi massanya. Tentu saja, eskalasi di Semarang turut memanas. Aksi massa terjadi di mana-mana. Ribuan aktivis Gerakan Mahasiswa dari semua kampus, turun ke jalan raya. Aksi Reformasi terus berlangsung hingga Jenderal Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, pada tanggal 21 Mei 1998, di Istana Negara Jakarta.

Agenda Reformasi 1998 Gagal Dilaksanakan

Apa yang sesungguhnya menjadi tuntutan Gerakan Reformasi 1998? Pertama, adili Jenderal Soeharto dan kroni-kroninya. Kedua, laksanakan amendemen UUD 1945. Ketiga, hapuskan Dwi Fungsi ABRI. Keempat, laksanakan otonomi daerah yang seluas-luasnya. Kelima, tegakkan supremasi hukum. Keenam, ciptakan pemerintahan yang bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah agenda tersebut telah terlaksana setelah 21 bergulirnya Gerakan Reformasi 1998? Mari kita telaah satu demi satu. Pertama, pihak yang berwenang di Indonesia tidak berhasil mengadili Jenderal Soeharto hingga tuntas, hingga yang bersangkutan menjemput ajalnya. Sementara itu, para pelaku lainnya, masih menikmati impunitas hingga kini. Kedua, tindakan amandemen terhadap UUD 1945 memang sudah dilakukan, namun masih belum berhasil menjamin pelaksanaan reformasi di berbagai bidang. Bahkan, belakangan justru muncul gerakan untuk kembali ke UUD 1945 yang asli. Ketiga, Dwifungsi ABRI telah dihapuskan, namun faktanya, kalangan militer justru mendapatkan kesempatan yang semakin luas untuk berkiprah di segala bidang. Keempat, pelaksanaan otonomi daerah sejauh ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda keberhasilannya. Semangat otonomi daerah belum berdampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di masing-masing daerah. Tentu saja, ada beberapa daerah yang tergolong cukup berhasil seiring dengan proses desentralisasi, namun, tak sedikit daerah yang mengalami persoalan serius.  Kelima, belum ada perkembangan yang berarti dalam penegakan hukum di era reformasi. Pelanggaran HAM masa lalu, belum diselesaikan sampai sekarang, sementara potensi pelanggaran HAM dan lemahnya penegakan hukum justru semakin meningkat. Keenam, ditangkapnya berbagai pelaku tindak pidana Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) menunjukkan bahwa upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN bukanlah perkara yang mudah. Namun demikian, sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh putus asa untuk terus berusaha. Merdeka !!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here