BERBAGI

Refleksi peringatan  41  kelahiran di Library Cafe and Hostel John Dijkstra Semarang, Senin (20/5/2019) . Dok/LBH Semarang.

Pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi, berkeyakinan, dan beragama serta penggusuran

Serat.id – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, menggelar refleksi peringatan  41  kelahiran di Library Cafe and Hostel John Dijkstra Semarang, Senin (20/5/2019) petang tadi. Lembaga itu melihat masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai saperti pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi, berkeyakinan, dan beragama serta penggusuran.

“Bentuk pembungkaman tersebut seperti melalui pembubaran buku dan penyitaan buku,” kata Direktur LBH Semarang, Zainal Arifin.

Baca juga : LBH Semarang Sayangkan Penggusuran Warga Tambakrejo

LBH Semarang: Golput Hak Asasi Berpolitik

Aktivis Semarang Peringati 26 Tahun Kematian Marsinah

Menurut Zaenal, kondisi itu terjadi selang 21 tahun setelah tumbangnya orde baru oleh gerakan reformasi.  ” Orde baru tentu menjadi hal yang sangat kelam, tentu saja. Harusnya reformasi menjadi tonggak untuk naik tetapi sempat naik kemudian turun lagi. Menjauh dan menuju seperti orde baru,” ujar Zainal menambahkan.

Menurut dia selama ini LBH Semarang berdiri memberikan bantuan hukum kepada masyarakat miskin, tertindas, dan buta hukum. Namun kondisi penegakan yang berdasarkan keadilan dan hak asasi manusia serta penegakan terhadap demokrasi masih memprihatinkan.

Penegakan hukum dan demokrasi saat ini sedang terancam dengan manuver eksekutif mau lagi mengambil alih kebijakan-kebijakan dalam hal penegakan hukum yang ada di Indonesia.

Dalam momen ulang tahun ke-41 ini yang bersamaan dengan Pemilu 2019, LBH Semarang menaruh perhatin utama pada demokrasi, penegakan hukum dan hak asasi manusia. Menurut dia politik elektoral Indonesia kali ini belum memunculkan optimisme akan mengarah pada perbaikan.

“Karena pemimpin saat ini dihasilkan dari proses politik yang masih menganut oligarki,” katanya.

Refleksi ulang tahun ke-41 LBH Semarang juga menghadirkan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang Edi Faisol dan Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Setyawan Budi serta music performance oleh Noema dan Babakbondas.

Edi menyebut, selama kiprahnya memberi bantuan hukum kepada masyarakat, LBH Semarang menjadi inspirasi publik untuk peduli kepada kelompok minoritas, marjinal, dan korban-korban pembangunan.

“Dengan peringatan 41 tahun ini kami salut dengan LBH yang menjaga nyala api pergerakan dan menjaga pendampingan konflik sosial, konflik industri,” ujar Edi Faisol.

Edi menyatakan tidak bisa membayangkan nasib masyarakat marjinal dan masyarakat miskin kota jika tak ada LBH Semarang.  Menurut dia LBH Semarang menjadi inspirasi pemberitaan dan profesionalitas jurnalis.

“Misalnya menulis tentang Masyarakat Adat Samin yang selama ini berbenturan dengan industri. Sikap jurnalis itu memihak ke masyarakat korban. Bukan berarti kita tidak independen tetapi inilah fungsi keberpihakan tersebut,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here