BERBAGI
Warga memotong biji aren dari tangkainya untuk diolah menjadi kolang-kaling di Desa Jatirejo, Gunungpati
Warga memotong biji aren dari tangkainya untuk diolah menjadi kolang-kaling di Desa Jatirejo, Gunungpati.

Serat.id – Kolang-kaling buah aren yang sangat digemari masyarakat saat ramadan untuk berbuka puasa. Camilan yang menyegarkan ini tak kalah enaknya dengan kurma jika disantap saat berbuka puasa, apalagi ketika dibuat kolak dan dicampur dengan pisang, nangka, atau waluh. Namun siapa sangka pembuatan kolang-kaling membutuhkan proses yang sangat lama hingga siap untuk disantap.

Di Kota Semarang, tepatnya Kelurahan Jatirejo Gunungpati terdapat sentra pembuatan kolang-kaling secara tradisional dan sering disebut dengan “kakola” atau kampung kolang-kaling. Hal itu karena mayoritas warganya merupakan pengrajin kolang-kaling terbesar di Semarang.

Dwi Sayekti Kadaruni, Sekretaris Kelompok Darma Wisata Jatilanggeng menuturkan, pengrajin kolang-kaling di Kelurahan Jatirejo sendiri berjumlah lebih dari 20 pengrajin, dengan proses yang masih tradisional.

“Jumlah pengrajin kolang-kaling di Jatirejo dulu hampir ada 50 orang serta hampir satu kelurahan mejadi pengrajin kolang-kaling tapi seiring berjalannya zaman sekarang mulai berkurang dan hanya tersisa 20 pengrajin saja,” ujar perempuan yang kerap disapa Ninik kepada Serat.id, Selasa 21 Mei 2019.

Ditambahkan, dari keselurahan jumlah kepala keluarga (KK) Jatirejo sendiri berjumlah 500 KK, setiap bulan ramadhan tiba mayoritas warga alih profesi menjadi pengrajin kolang-kaling namun juga ada beberapa warga yang memang setiap harinya menjadi pengrajin kolang-kaling.

“Jika ramadhan tiba, hampir seluruh warga Jatirejo mengolah kolang-kaling, karena biasanya pesanan kolang-kaling akan meningkat drastis pembelinya juga berasal dari luar kota,” jelas Ninik.

Pengrajin kolang-kaling asal Jatirejo, Musilimin menuturkan, proses pembuatan kolang-kaling sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama dan rumit.

“Buah aren yang sudah yang diambil dari pohonnya dikumpulkan dahulu kemudian dipisahkan dari batangnya, buad yanh sudah dipisah lalu direbus kurang lebih sejam, Setelah matang, buah aren dikupas dengan cara dibelah berdasarkan posisi biji aren yang akan diambil,”  ujarnya.

Proses pemisahan buah aren dengan batangnya pun juga harus berhati-hati kalo tidak akan terkena getah aren yang sangat gatal, setelah biji aren diambil kemudian ditumbuk.

“Semua proses dilakukan secara manual, proses penumbukan dilakukan agar buah aren menjadi pipih serta tau tingkat kematangannya, setelah dipipihkan buah aren direndam selama 3 hingga seminggu baru jadi kolang-kaling,” kata Muslimin.

Jelang ramadhan tiba, Muslimin bisa memproduksi sampai 1 ton untuk sekali produksi, kemudian ia jual dalam partai besar dipasar-pasar tidak hanya di Kota Semarang saja.

“Biasanya saya jual 10 ribu rupiah per kilonya, dipasar juga sudah ada pengepulnya. Kalau kolang-kaling sudah siap dijual ya tinggal antar saja,” ucap pria yang sudah menjadi pengrajin kolang-kaling sejak 1970-an ini.

Jatirejo sendiri tidak hanya memiliki keunggalan sentra pembuatan kolang-kaling, namun juga sebagai desa wisata seperti adanya river tubing dan homestay. Wisatawan yang datang, juga bisa terdukasi dengan pembuatan kolang-kaling. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here