BERBAGI
Andreas B. Wirohardjo (*)

Pantja Sila adalah dasar negara sekaligus merupakan sumber dari segala sumber hukum karena itu penulisan Pantja Sila tak bisa diubah kecuali memang Pantja Sila sudah dipinggirkan

Pantja Sila bung Karno dan Pancasila Soeharto sangat berbeda makna, sejarah maupun prakteknya dalam bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Jika kita perhatikan dua gambar cover buku Pidato Lahirnya Pantja Sila 01 Juni 1945 dan tulisan tangan Bung Karno, jelas tulisan Pantja Sila itulah yang benar.

Meskipun dimungkinkan Pantja Sila diubah penulisannya dalam ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan menjadi Panca Sila, tetapi mengingat sejarah dan keasliannya sebaiknya tetap ditulis Pantja Sila.

Hal itu mengacu Pantja Sila Bung Karno yang dilahirkan pada 1 Juni 1945. Sedangkan saat Orde Baru berkuasa sampai dengan presiden Jokowi menetapkan 01 Juni 1945 sesungguhnya yang diberlakukan negara dan pemerintah adalah Pancasila lima agama import dengan dominasi Islam.

Sedangkan Pantja Sila 01 Juni sebagaimana Pidato kelahiran Pantja Sila oleh Bung Karno di depan sidang BPUPKI tanggal 01 juni 1945 dengan agenda sidang  pertama  29 Mei  hingga  01 Juni 1945 penetapan dasar negara.  Pidato dasar negara Pantja Sila telah diterima secara aklamasi dalam sidang BPUPKI, termasuk pihak Dai Nippon yang masih berkuasa dan disahkan sebagai dasar negara.

Saat Orde Baru berkuasa dasar negara Pantja Sila 01 Juni 1945 telah dipinggirkan, diingkari, ditabukan bahkan direkayasa untuk dikaburkan, diganti atau bahkan dipalsukan oleh Alm. Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dengan Pancasila yang hari lahirnya 18 Agustus 1945. Nugroho Notosusanto yang berpendapat Pancasila terdapat pada alinea ke IV Pembukaan Konstitusi UUD 1945.

Pancasila di era Orde Baru Soeharto ditulis Pancasila dengan lima agama import dengan dominasi agama karena diberlakukannya alinea ke tiga konstitusi UUD 1945 yang dipalsukan dan telah disahkan dalam amandemen UUD 1945 tahun 2002 yang tertulis di alinea ke tiga yang dipalsukan sejak 1946 dan disahkan MPR 1999-2004, dalam alenia tulisan kata tuhan diganti dengan Allah.

Kalimat yang menurut penulis palsu bertuliskan : “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Sedangkan aslinya bertuliskan “Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Oleh sebab itulah sejak belum pernah hari kelahiran Pantja Sila 01 Juni diperingati oleh negara dan pemerintah secara resmi. Yang diperingati justru adalah hari Kesaktian Pancasila setiap 01 Oktober dan Pancasila itu adalah Pancasila lima agama yang mematikan seluruh kepercayaan lokal Nusantara karena rakyat Indonesia harus memeluk salah satu dari lima agama import.

Kata Pantja Sila Dalam Catatan PPKI dan Bung Karno

Saya yakin penulisan yang benar adalah Pantja Sila bukan Pancasila tanpa spasi dan bukan pula Panca Sila dengan spasi. Memang terminologi dan kosakata Pantja Sila, Pancasila maupun Panca Sila tidak dikenal didalam konstitusi UUD 1945. Namun itu bukan berarti siapa pun dengan seenaknya menulis sembarangan.

Menurut hasil keputusan sidang PPKI dan panitia kecil disebabkan karena Anggota PPKI,  I Gusti Ketut Puja kata “Allah” minta diganti dengan kata “Tuhan” … dan Ketua Sidang Bung Karno menawarkan pada peserta sidang atas keberatan itu … dan seluruh anggota anggota sepakat secara aklamasi mengganti kata “Allah” diganti dengan “Tuhan”.

Sebelum ketua sidang memutuskan ditanyakan sampai dua kali adakah anggota yang keberatan. Yang ternyata tak ada yang keberatan dan sekali lagi Bung Karno sebelum mengetuk palu membacakan keseluruhan Pembukaan Konstitusi UUD 1945  serta menawarkan siapa yang tak setuju dijawab secara aklamasi setuju dan palu sidang diketuk  selesailah penetapan Pembukaan Konstitusi UUD 1945.

Selain itu kata Pantja Sila 01 Juni 1945 oleh Bung Karno  yang dibuktikan dengan tulisan tangan Bung Karno  lewat kalimat : “Marilah kita kembali pada jiwa kita sendiri !!,  Jangan kita menjadi satu bangsa tiruan !!”  menunjukan jelas apa yang dimaksud Bung Karno  jangan jadikan Islam sebagai dasar negara dan jangan jadi bangsa tiruan Arab.

Sedangkan dalam pidato di majelis umum PBB tahun 1960 dengan judul To Build The World A New atau Membangun tata dunia baru : Pidato Soekarno 30 September 1960, Bung Karno menawarkan “Pantja Sila” untuk dipakai sebagai perbaikan dasar PBB, tawaran ini dikumandangkan dalam sidang umum PBB didepan pemimpin dunia tahun 1960 yang hadir dalam sidang ketika itu.

“Pantja Sila” dialih bahasakan dalam bahasa inggris menjadi “The Five Principles” Bukankah kalau ditulis “Pancasila” justru tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris sehingga terpaksa ditulis “Pancasila” ?

Sejak awal kelahirnya Pantja Sila 01 Juni 1945 Bung Karno dalam pidatonya menawarkan mula-mula Pantja Dharma, namun oleh bisikan temannya sebaiknya Dharma digantin dengan Sila maka ditawarkanlah Pantja Sila bagi yang suka dengan angka 5, apabila yang suka dengan angka 3 ditawarkan Tri Sila, dan kalau yang suka dengan satu Eka Sila yaitu “Gotong Royong”

Bukankah dalam kaidah bahasa Indonesia penulisan 5 hari kalau ditulis dalam abjat yang benar adalah “lima hari” dan akan bodoh dan salah kalau ditulis “limahari”.

Selama Orde Baru Haji Muhammad Soeharto berkuasa tulisan “Pantja Sila” diubah menjadi “Pancasila” diucapkan sama.  Namun perlu kita sadari di tulisan dan makna berbeda, tulisan kata dasar negara “Pancasila” menjadi tidak bermakna sebagaimana yang dipidatokan Bung Karno.

Penguasa Orde Baru membuat tafsir “Pancasila” secara sepihak dengan memaknai jauh berbeda dari kelahirannya. Soeharto telah menyelewengkan Pantja Sila 01 Juni 1945 bung Karno dengan mengganti menjadi “Pancasila” lima agama disertai tafsirnya sendiri yang dikenal dengan  Eka Prasetya Panca Karsa dengan politik mono Loyalitas dan pembangunan ekonomi menggunakan istilah trilogi pembangunan mengadopsi teori trickle Down effect yang diajarkan lewat penataran dan pendidikan P4 pada semua jenjang pendidikan.

Produk Pendidikan hasil penafsiran penguasa Orde Baru menghasilkan  manusia  Indonesia sekarang yang tercerabut dari akar budayanya.  Kita menjadi lupa Pantja Sila digali oleh Bung Karno bersumber dari bumi pertiwi dan dijadikan sebagai dasar negara Indonesia yang diperuntukan bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

* Andreas B. Wirohardjo, pegiat kajian nasionalisme dan sejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here