BERBAGI

Ilustrasi, Abdul Arif,/serat.id

Tak lepas dari seorang pegawai departemen agama, bernama Muhammad Zain.

Serat.id – Kelompok musik Nasida Ria mulai dirintis era tahun 1970-an, kehadiran musik Islami irama qasidah yang kemudian mengunakan alat modern itu tak lepas dari seorang pegawai departemen agama, (sekarang kementerian agama), Muhammad Zain.

“Selain sebagai pegawai, pak Haji Zain pengajar seni baca Al Qur’an di sejumlah desa, keliling ngajar Qiro’ah,” kata personil Nasida Ria generasi pertama, Rin Jamian, saat diskusi tentang Nasida Ria yang digelar komunitas Histeria Semarang,  pertengahan April 2019.

Berita terkait : Cerita Lagu Qasidah Yang Melampui Zaman

Dari Rebana ke Musik Modern

Penampilan Yang Istiqomah

Rin menjelaskan, sebagai ulama yang pegawai, Muhammadi Zain sangat cinta seni, “Beliau seni sekali,” kata Rin menambahkan.

Muhammad  Zain punya keinginan mendirikan grup musik yang pemainnya semua perempuan. Untuk memenuhi keinginannya itu, dilakukan perekrutan murid ngaji dari kampung-kampung diasramakan di Kota Semarang, termasuk dirinya yang saat itu masih belasan tahun.

Zain juga terinsipirasi grup musik Islami Asabab yang semua personilnya laki-laki. Asabab merupakan grup musik Islami sebelum Nasida Ria lahir.

Proses seleksi para pemain Nasida Ria awal dilakukan di sela mengajarkan seni baca Al Qur’an. Tak hanya qiro’ah dan tajwid, Zain menyeleksi kecenderungan jiwa seni suara, meski diakui tak semua murid dari asrama yang dikelola bergabung di Nasida Ria.

Muhammad Zain sengaja merintis grup musik qasidah Nasida Ria di sela mendidik belajar baca  Al Qur’an. Ia mengaplikasikan pendidikan qiroati  dengan seni lagu Islami, proses pendidikan membaca kitab suci dan pencarian bakat.

“Meski mereka banyak qiroati menjadi vokalis lagu, ada juga yang menjadi ustazah,” kata Rin menjelaskan.

Baca juga : Dari Nostalgia Lahirlah New NR

Sedikit Goncang Ketika Sang Primadona Mundur

Alasan Anak Muda Ini Meneliti Nasida Ria

Personil Nasida Ria generasi pertama lain, Nunung Muchayatun, menyebutkan, perjalananan grup musik dengan dipersonil murid ngaji yang dikelola Zain diawali dari iringan rebana. “Saat itu sering manggung keliling hingga dipercaya oleh pejabat Kota Semarang untuk acara resmi pemerintahan,” kata Nunung.

Nunung menjelaskan embrio Nasida Ria yang lahir dari asrama di kampung Kauman Mustaram nomor 58 Kota Semarang itu bernama grup Al Liatin  berbasis alat musik sederhana rebana. Kelompok musik itu sering mengisi Maulid Nabi dengan lantunan Sholawat Nabi yang terus berkembang menggunakan alat musik modern.

“Dalam mengembangkan grup Pak haji Zain rela mengundang para pemain musik profesional ke asrama melatih para personil,” kata Nunung menambahkan.

Hingga perjalanan kelompok yang semakin profesional dengan alat musik seruling, gitar melodi, bas, biola, organ dan kendang itu  semakin mendapat simpati publik. Termasuk perhatian Wali Kota Semarang Imam Suparto yang sebelumnya menyumbangkan alat musik juga seragam.  (*)

Edisi khusus legenda Nasida Ria, tim liputan : Peramu data Ulil Albab Alsidiqi, Penulis Edi Faisol, Ilustrasi Abdul Arif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here