BERBAGI
Ilustrasi, Abdul Arif/ Serat.id

Penampilan grup yang khas itu sempat dikenal di dunia fashion di eranya.

Serat.id – Identitas panggung Nasida Ria tak hanya menampilkan syair perpaduan lagu arab dan Mesir, namun juga penampilan yang khas. Penuilis buku “Nasida Ria sejarah the legend of Qasidah” Listiya Nurhidayah, menyebutkan ciri khas Nasida Ria merupakan musik qasidah yang istiqomah.

“Dari sisi penampilan Nasida Ria tak merubah musim, meski kala itu banyak pengaruh dari luar. Mereka konsisten, dengan ciri khas sendiri, bahkan dulu pakaiannya pernah jadi ikon,” kata Listiya, saat diskusi membedah sejarah Nasida Ria, belum lama ini.

Berita terkait : Dari Rebana ke Musik Modern

Awal Kelahiran Dari Ulama Lokal

Cerita Lagu Qasidah Yang Melampui Zaman

Menurut Listya, konsistensi penampilan grup yang khas itu sempat dikenal di dunia fashion di eranya. Pakaian khas yang sering digunakan Nasida Ria sempat mempengaruhi  model dalam dunia fashion yang disebut kebaya Nasida Ria.

Saat itu Nasida Ria tampil mewakili gaya pakaian Islam Indonesia yang khas dengan kebaya panjang dan penutup kepala kerundung, bukan jilbab tertutup.

Tak hanya dari penampilan, Listiya menyebut eksistensi Nasida Ria yang istiqomah juga dibuktikan dengan judul yang konsisten bicara moral dengan irama yang tetap menjaga pakem. Hal itu sesuai dengan sistem norma yang dipakai grup ini yang konsisten menjaga kualitas lewat peraturan dalam merekrut personil.

“Ini sesuai basik awal berdiri,  seni Al Qur’an yang tetap menjaga ahlaq,” kata Listiya menjelaskan.

Baca juga : Dari Nostalgia Lahirlah New NR

Sedikit Goncang Ketika Sang Primadona Mundur

Alasan Anak Muda Ini Meneliti Nasida Ria

Salah satu personil Nasida Ria generasi pertama, Rin Jamian, menyebutkan kedisiplinan  grup musik tak lepas dari peran sang pendiri Muhammad Zain, yang menerapkan sistem displin bagi calon personil yang sebelumnya diasramakan lewat pendidikan Al Qur’an.

“Haji Zain memenuhi keinginanya mendirikan Nasida Ria, merekrut murid ngaji dari kampung-kampung diasramakan di Kota Semarang, termasuk saya saat itu masih belasan tahun,” kata Rin.

Di asrama itu, Nasiada Ria dibentuk dengan kedisplinan. Bahkan Rin yang sempat jadi ketua asrama pernah mengaku sempat mewakili tukar cicin salah satu anggotanya. Saat itu untuk menjaga kedisplinan yang menetapkan penghuni dilarang keluar sebelum waktu ditetapkan.

 “Memang ada aturan saat  perekrutan awal personil harus masih lajang,” kata Rin menjelaskan.

Menurut dia, kedisiplinan Nasida Ria lebih mengutamakan dan mempertahankan akhlaq dan iman. (*)

Edisi khusus legenda Nasida Ria, tim liputan : Peramu data Ulil Albab Alsidiqi, Penulis Edi Faisol, Ilustrasi Abdul Arif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here