BERBAGI
Hasan Aoni *

Mengelilingi kebun di pinggiran hutan di Kalimantan pada mudik tahun ini seperti memasuki dunia lain. Meski sudah beberapa kali datang di kampung tempat isteriku berasal. Bukan saja tanah berpasir yang selalu basah oleh hujan yang datang setiap waktu meski sudah kemarau, juga gubug petani. Ia lebih mirip rumah kayu daripada gubug di tengah sawah seperti umumnya di Jawa.

Terbuat dari kayu kampul, merang, dan meranti untuk tihang dan dindingnya, atap dari daun nipah, gubug berukuran empat kali delapan meter itu menyaingi luas rumah pegawai golongan bawah di pinggiran Jakarta. Lengkap ada teras depan, ruang tengah, dapur, dan kamar mandi di bagian luar yang tak beratap. Tanah yang selalu basah itu, juga binatang liar yang dihindari, menaikkan gubug dan rumah-rumah di Kalimantan menjadi panggung kehidupan satu meter di atas tanah.

Nikmat apa lagi yang harus kami dustakan? Alam telah menyediakan seluruh kebutuhan warga yang tinggal jauh dari kota untuk hidup. Seperti tanaman konsumtif yang tumbuh di sekitar gubug itu. Ada tebu telur yang buahnya mirip telur udang baik rasa maupun bentuknya. Juga lengkuas, jahe, kunyit kuning dan putih, merica, dan segala macam perisa. Belum lagi kelapa, pisang, jeruk nipis, terong, dan segala macam sayuran. Tak ketinggalan jengkol yang sering menghebohkan penjaga toilet. Di Kalimantan tanaman terakhir itu disebut “jaring”, orang Jawa menyebutnya “jering”. Nama beda, tapi rasa dan efek baunya sama.

Dengan kelengkapan itu, hamparan itu lebih mirip mall serba ada versi petani. Hyperfield sesungguhnya. Supermarket tanpa iklan. Untuk mendapatkannya tak perlu gesek kartu kredit, yang suka bikin orang kota dikejar utang. Cukup memetik dan memangkasnya lalu memasak. Malah ada yang langsung bisa disantap mentah-mentah. Jika ada utang, satu-satunya adalah menanam dan merawatnya. Itu cara membayar warga setempat pada alam.

Tapi, ada utang yang belum dilunasi. Dari udara dua hari lalu sebelum kami mendarat di Bandar Udara Iskandar, Pangkalan Bun, hutan yang dulu gundul dan terbakar tampak mulai terisi. Tapi, bukan oleh para penebang dan pembakar itu pohon-pohon ditumbuhkan kembali. Alam menanam pohon-pohon itu sendirian. Andai alam diberi hak untuk menuntut, pasti utang-utang itu akan dilunasi. Dia bukan subjek penentu seperti suku bunga. Dia tak setara bank. Jika hutan-hutan yang hilang memengaruhi pertumbuhan, pasti semua ingin menjaganya. Pada petani hutan di sekitar gubug itu yang dulu mereka suruh membakarnya dan kini mulai sadar, kita patut belajar.

Di gubug itu beberapa hari aku dan keluarga kecilku singgah. Menengok puluhan hektar hamparan lahan yang di atasnya ditanam kelapa hampir seribu yang sudah mulai berbuah, juga sawit-sawit yang kami tanam untuk belajar membuat minyak sendiri dan sudah berproduksi sejak tiga tahun lalu. Dalam sebulan ini saudara dan penduduk sekitar membangunkan kami “kandang komunal” untuk walet-walet pelintas sungai Sekonyer. Siulan imitatif yang akan kami nyalakan sebentar lagi, juga percik air wudhu yang jernih, semoga bisa menjadi undangan resmi mereka untuk hadir.

Di dekat tempat kami berharap itu, satu meter di atas tanah berdiri panggung kehidupan yang sesungguhnya. Gubug organik dengan dua jendela yang mengundang sepoi-sepoi angin hadir keluar masuk bertamu. Menggugah seleraku untuk tidur meski gagal karena panas katulistiwa yang sangat terik. Tapi itu tak bikin kami kapok berkunjung. Suatu saat nanti kami akan kembali, mungkin tidak hanya singgah, tapi tinggal. (*)

Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah di Kabupaten Kudus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here