BERBAGI

Batu sisa material 108 Candi yang hilang tersebut digunakan untuk paving jalan raya sepanjang Dieng kulon hingga Dieng wetan oleh Belanda kisaran tahun 1830-an.

Serat.id – Catatan sejarah meyebutkan terdapat ratusan candi di dataran tinggi Dieng yang dicatat oleh pemerintah kolonial Belanda saat awal menemukan komplek candi Dieng pada tahun 1800-an. Catatan itu mengurai pemahaman baru bagi wisatawan yang selama ini hanya mengenal sembilan candi di kawasan tersebut.

Sejumlah wisatawan tengah mengunjungi bangunan Candi di Kawasan Dieng, Minggu 16 Juni 2019. (Foto Anin/Serat.id)
Sejumlah wisatawan tengah mengunjungi bangunan Candi di Kawasan Dieng, Minggu 16 Juni 2019. (Foto Anin/Serat.id)

“Terdapat total 117 Candi yang diinventarisir oleh Belanda, namun kini hanya tersisa 9 Candi,” ujar Kepala UPT Dieng, Aryadi Dawanto saat ditemui serat.idMinggu, 16 Juni 2019.

Arya menjelaskan dari total 117 Candi, kini tersisa 9 Candi seperti Candi Arjuna, Srikandi , , Gatotkaca, Bima, Semar, Dwarawati, Setyaki, Puntadewa, Sembadra, dan kawasan Sumur Jalatunda. Ironisnya batu sisa material 108 Candi yang hilang tersebut digunakan untuk paving jalan raya sepanjang Dieng kulon hingga Dieng wetan oleh Belanda kisaran tahun 1830an.

Gubernur Jenderal pemerintah hindia Belanda di Jawa, Rafless pada tahu 1814 sempat mengabadikan 4 Candi terbesar yang hilang seperti Candi Nakula-Sadewa, Candi Prahu, Candi Parikesit dan Candi Nala Gareng yang tidak tersisa karena reruntuhan batu digunakan untuk pondasi jalan raya Dieng.

” Candi yang hilang batu-batunya digunakan untuk membangun jalan raya sepanjang Dieng oleh Belanda,” ujar Aryadi menambahkan.

Pada masa pemerintahan kolonial, Belanda juga menemukan dataran tinggi Dieng dan telah memperkenalkan kawasan tersebut sebagai  tempat wisata untuk warga Belanda. Dari sirtu patung-patung dan prasasti yang sempat berada di kawasan Dieng  wetan, tepatnya di Pesanggrahan, justru dijual menjadi souvernir untuk warga Belanda yang datang berlibur di daerah Dieng.

Prasasti dan patung oleh pemerintah Belanda dijual sebagai souvenir yang dihargai 7 Golden setara dengan Rp 70 juta, sementara prasasti dijual 1 Golden setara dengan Rp 7 juta. “Beberapa prasasti dan patung dijual sebagai souvernir untuk orang Belanda yang datang ke sini (Dieng),” kata Aryadi menjelaskan.

Dhiyang atau Khayangan yang cukup dikenal dengan dataran tinggi Dieng berada di ketinggian 2 ribu meter di atas permukaan laut. Dieng dipercaya menjadi tempat bersemayamnya dewa-dewi, terletak di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kota Wonosobo Dieng menjadi destinasi wisata dengan Candi Arjuna yang menjadi Iconic tempat tersebut.

Edukasi pelancong dengan Barcode

Kawasan dataran tinggi Dieng tidak hanya menyuguhkan keindahan alam saja, kini Objek Wisata yang berada di ketinggian 2 ribu meteran diatas permukaan laut beranjak menjadi Objek Wisata berbasis  Smart Destination atau Wisata Pintar yang dilengkapi dengan barcode.

Aryadi Darwanto mengungkapkan  pemasangan barcode dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan wisatawan untuk mengetahui seluk beluk serta cerita sejarah dari Objek Wisata yang berada di kawasan Dieng.

” Dengan adanya barcode akan mempermudah Wisatawan untuk memperoleh informasi sejarah wisata di Dieng,”  kata Aryadi

Ia menjelaskan aplikasi pemindai yang ada di ponsel wisatawan dapat memindai barcode QR yang berada di semua objek Wisata Dieng. Sudah ada delapan candi yang telah terpasang barcode. Ditambah dengan 20 benda yang ada di museum Kailasa, seperti arca dan patung yang telah dilengkapi dengan barcode.

Smart Destination atau Wisata pintar sendiri bisa dinikmati oleh wisatawan mulai pekan depan, dengan  adanya barcode diharapkan mampu mengembangkan wisata di kawasan Dieng.  Terutama terkait edukasi  dunia pendidikan untuk memperluas pengetahuan

“Untuk saat ini barcode masih dipasang komplek Candi Arjuna dan Museum, ke depan akan dipasang di seluruh wisata kawasan Dieng ,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here