BERBAGI
Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin saat dijemput aktivis dan keluarga usai menerima grasi dari Presiden Joko Widodo. Foto /Istimewa

Perjuangan para petani itu menjadi inspirasi keseluruhan warga Surokonto Wetan dan pihak lain

Serat.id – Yayasan Lembaga bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyebut keberanian Nur Aziz, Rusmin, dan Sutrisno sebagai petani yang menjaga martabat rakyat  tanpa rasa takut, layak mendapat pujian. Lembaga tersebut menilai perjuangan para petani itu menjadi inspirasi keseluruhan warga Surokonto Wetan dan pihak lain.

“Proses grasi yang diajukan tidak hanya di dukung dari organasisai Islam, namun juga mendapat dukungan dari mahasiswa dan organisasi gereja.Perjuangan belum selesai sampai disini saja, selanjutnya adalah mencabut SK penetapan hutan di Surokonto Wetan”, kata M. Isnur, perwakilan dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), saat Tasyakkuran Rakyat bebasnya petani Surokonto, Sabtu 29 Juni 2019.

Berita terkait : Petani Surokonto Korban Kriminalisasi Akhirnya Dapat Grasi

API Jateng: Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Petani

Isnur mendukung perjuangan petani yang mempertahankan alat produksi berupa lahan. “Karena ini lahan rakyat dan masyarakat maka kami akan berjuang terus agar lahan kembali ke masyarakat,”  kata Isnur.

Menurut dia, Tasyakkuran itu sekaligus menegaskan bahwa perjuangan Nur Aziz, Rusmin dan Sutrisno merupakan awal untuk terus memperjuangkan keadilan bagi para petani.

Tercatat Perkumpulan Petani Surokonto Wetan (PPSW) Desa Surokonto Wetan Kec. Pageruyung menggelar “Tasyakkuran Rakyat” atas bebasnya ketiga petani yakni Kyai Nur Aziz, Rusmin, dan Sutrisno, Sabtu 29 juni lalu

Tasyakuran itu sebagai pertanda perjuangan warga Surokonto Wetan memperjuangkan hak atas tanahnya masih terus berlanjut.

Kyai Nur Aziz, Rusmin dan Sutrisno, ini dinyatakan bebas setelah sebelumnya dikriminalisasi dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H).

Setelah permohonan Grasi yang diajukan oleh  ketiganya dikabulkan pada 13 Mei 2019, Grasi tersebut menyebutkan penghapusan pelaksanaan sisa masa pidana yang harus di jalani dan penghapusan pidana denda.

 Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid yang turut hadir di acara itu menyampaikan langkah Nur Aziz, Rusmin dan Sutrisno, sebagai tindakan berani dalam memperjuangkan harkat dan martabat Petani Sorokonto Wetan.

“ Kita juga punya rasa takut. Namun walau takut, kita harus berani melewati batas. Disitulah martabat diperjuangkan,” kata  Alissa. (*)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here