BERBAGI

Serat.id– Tak seperti biasanya pengunjung Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang dikenai pungutan parkir saat memasuki gerbang. Itu yang dialami Rahmad Prayoga, salah satu pengunjung TBRS.

Tiket parkir.

“Kok tumben banget masuk TBRS dimintai uang parkir. Biasanya juga enggak,” kata Rahmad kepada serat.id, Selasa, 2 Juli 2019.

Rahmad biasa berkunjung ke TBRS merasa kaget dengan adanya pungutan parkir itu. Sebab selama ini pengunjung yang akan masuk di wilayah TBRS tidak pernah dipungut biaya parkir sepeser pun.

Rahmad yang juga seorang supir ojek online mengaku dicegat dua orang memakai rompi berwarna oranye dengan tulisan juru parkir (jukir) di bagian dada sebelah kiri. Dua orang tersebut memungut biaya parkir sebesar Rp 2.000 per kendaraan masuk baik itu roda dua maupun roda empat. Rahmad mengaku ada yang janggal lantaran di karcis yang tertera biaya parkir Rp 1.000.

Baca juga: Pameran Seni Rupa “Rekam Rebut”

“Anehnya kok di kertas parkir ditulis Rp 1.000 tapi dimintainya Rp 2000,” jelas Rahmad.

Bendahara UPTD TBRS Semarang, Bambang Pujisarwono mengatakan tidak tahu dengan adanya pungutan parkir di kawasan TBRS. Pihaknya hanya bertanggung jawab perihal sewa gedung yang ada di kawasan tersebut.

“Kalau soal parkir itu kewenangan Dinas Perhubungan,” ujarnya

Bambang memang sempat mendengar kabar terkait pengelolaan parkir di kawasan TBRS dari Dishub yang diserahkan ke CV Dua Saudara. Tidak hanya kali ini saja, TBRS Semarang memungut biaya parkir. Pada akhir tahun 2018 lalu, kebijakan demikian juga pernah diterapkan dengan memasang palang parkir di dekat pintu masuk TBRS Semarang dan menimbulkan protes.

“Katanya itu yang ngurus pihak ketiga (CV Dua Saudara), dulu juga pernah dibikin portal parkir dan sempat diprotes,” kata Bambang

Terkait dengan protes soal parkir Bambang mengaku protes datang dari para seniman yang tergabung dalam Dewan Kesenian Semarang (Dekase) dan pengunjung yang datang ke TBRS , sehingga portal yang dipasang hanya bertahan dalam hitungan hari .

“Mereka (dekase) mengklaim kalau tempat umum tidak patut dipunguti biaya apalagi TBRS tempat orang-orang untuk berkarya,” beber Bambang.

TBRS sendiri merupakan lahan terbuka hijau yang memiliki luas sekitar 89.926 meter persegi, dan kerap menjadi tempat seniman untuk berekspresi dan melakukan pertunjukan seni.

Hingga berita ini ditulis pihak dinas perhubungan kota Semarang belum membalas konfirmasi baik melalui pesan WhatsApp atau telepon. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here