BERBAGI

Serat.id– Gerakan inteleransi saat ini tak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga merambah ke media sosial. “Medsospun sekarang banyak diramaikan oleh kaum intoleran sebagai medium gerakan mereka,” kata Prof Sumanto Al Qurtuby di sela-sela kegiatan halal bihalal dan silaturahmi di rumahnya, Pedurungan Semarang, Minggu 30 Juni 2019.

Prof Sumanto Al Qurtuby (kanan). (Yaqin/serat.id)
Prof Sumanto Al Qurtuby (kanan). (M Ainul Yaqin/serat.id)

Pengajar di King Fahd University Arab Saudi itu mengatakan, media online maupun media sosial hari ini menjadi media bagi kelompok Islamis untuk mengkampanyekan gagasan. Menurut Sumanto, mereka menggunakan media untuk propaganda dalam menyebarkan paham-paham Islamis-ekstrimis.

Sumanto menyebut banyak yang memanipulasi informasi di Indonesia. Seperti informasi Israel-Palestina dan Sunni-Syiah yang dimanipulasi untuk jualan di Indonesia. Menurutnya, konflik Palestina-Israel seringkali dibelokkan oleh media Islamis-ekstrimis sebagai konflik agama antara kaum Islam dan Yahudi. Padahal menurut Sumanto konflik tersebut merupakan konflik teritorial.

“Muslim dan Kristen di sana justru berkoalisi untuk melawan tentara Israel,” ujar lelaki .yang akrab disapa Kang Manto itu.

Sumanto berharap masyarakat semakin giat untuk melawan narasi yang berbau provokatif. “Saya nulis di Facebook sebenarnya juga untuk meng-counter narasi-narasi yang mereka sajikan untuk publik. Kita juga harus jeli membaca, mendengar dan memahami media online. Tidak mudah terprovokasi baik secara politis maupun ideologis,” katanya.

Menurut Sumanto, selain Islam, ada beberapa kelompok keagamaan yang mencoba untuk menggencarkan aksi intoleransi. Ia menyebut jumlahnya tak sedikit. “Di Kristen juga ada intoleran yang anti terhadap budaya dan kemajemukan. Hal ini tercermin pada jemaat Gereja Kharismati yang menjadi salah satu hilangnya tradisi budaya lokal di Indonesia”, katanya.

Sumanto mengatakan, kelompok Islam menjadikan Arab Saudi sebagai barometer kiblat Indonesia. Semangat Arabisme itu menurutnya, justru menghilangkan kultur lokal. Kelompok ini pula yang menurutnya seringkali mengatasnamakan bela Islam terhadap publik. Menurut Sumanto gerakan itu bermuatan politis terhadap kepentingan gerakan kelompok itu sendiri.

Sumanto juga menyebutkan kelompok modernis sebagai penyumbang intoleran dan mengikis tradisi lokal. Menurut Sumanto, mereka menganggap modern adalah acuan untuk bertindak dan berperilaku. Sementara hal-hal yang lama sudah dianggap kuno.

“Bedanya kelompok modernis non agama tidak seagresif dan fasis agama” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here