BERBAGI

Serat.idUIN Walisongo Semarang kini memiliki guru besar baru di bidang Ilmu Pendidikan Islam. Dialah Prof Syamsul Maarif yang saat ini mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan (Kapuslitbit) LP2M UIN Walisongo. Syamsul dinobatkan sebagai guru besar usai meneliti budaya damai di pesantren.

Prof Syamsul Maarif berpose bersama keluarga usai pengukuhan guru besar di kampus UIN Walisongo Semarang, Kamis 4 Juli 2019.
Prof Syamsul Maarif berpose bersama keluarga usai pengukuhan guru besar di kampus UIN Walisongo Semarang, Kamis 4 Juli 2019.

Pengukuhan guru besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) itu berlangsung di auditorium II kampus III, Kamis, 4 Juli 2019. Pada kesempatan itu Syamsul menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul “Pendidikan dalam Pusaran Neo-liberalisme dan Gerakan Ultra-Right: Restorasi Local Genius Pesantren”.

Syamsul menjelaskan karakter lokal pesantren yang mampu mencetak santri merealisasikan tiga identitas, berupa national identification, international identification, dan culture.

“Nilai-nilai pesantren mampu dijadikan sarana berkomunikasi dan berinteraksi pada level nasional maupun internasional,” kata Syamsul.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Khawarizmi itu menggambarkan pesantren dapat beradaptasi dengan tuntutan globalisasi. Menurutnya, pesantren sanat terbuka pada siapapun tanpa harus takut kehilangan identitas.

Baca juga: Buya Husein Bicara Soal Gender

“Pesantren sudah kadung berpegang teguh pada prinsip al-muhafadzatu ‘ala qadim al-shalih wa al-alkhdu bi al-jadidi al-ashlah dan relevan hingga hari ini,” katanya.

Syamsul menyerukan kepada pendidik agar terus menggerakkan komponen pendidikan melalui internalisasi nilai-nilai kultur ke-Indonesian. “Perubahan yang dibangun melalui dialog akan menggerakkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas,” katanya.

Ada momentum yang membuat haru para hadirin saat Syamsul mengakhiri pidatonya. Syamsul Ma’arif meneteskan air mata dan mengucapkan terima kasih kepada pendamping hidupnya, Laylatul Indasah. “Saat istri melahirkan anak, saya sedang ujian S3 jadi tidak bisa menemani,” ujar alumnus Doktoral UNY itu.

Syamsul Maarif merupakan profesor ke- 22 di UIN Walisongo Semarang. Rektor UIN Walisongo, Prof Muhibbin mengatakan, pihak kampus akan menambah guru besar sejumlah 30 hingga tahun depan.

“Tahun ini sudah ada 4 calon. Dua diantaranya sudah turun. Insyaallah bisa sampai target,” kata Muhibbin. (Fadli/magang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here