BERBAGI

Serat.id– Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) menggelar aksi di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Sabtu 6 Juli 2019.

Sejumlah mahasiswa asal Papua menggelar aksi di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Sabtu, 6 Juli 2019. (Tamam/Serat.id)
Sejumlah mahasiswa asal Papua menggelar aksi di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Sabtu, 6 Juli 2019. (Tamam/Serat.id)

“Kami menuntut Jokowi untuk segera menuntaskan kasus Biak Berdarah dan segera mengungkap siapa pelakunya,” kata Jackson Gwijangge selaku korlap.

Aksi masa yang berjumlah 30 lebih itu berlangsung di bundaran air mancur. Mereka lalu berjalan menuju kawasan Simpang Lima dan diiringi orasi.

Massa aksi membawa poster yang bertuliskan “Jokowi Tarik Militer TNI POLRI dari Nduga”, aksi menyampaikan pendapat itu berjalan aman. Sejumlah polisi tampak siaga di depan kampus Undip Pleburan. Massa mengakhiri aksi dengan membaca pernyataan sikap di depan Polda Jateng.

“Aksi ini memperingati dimana terjadi pembantaian yang dilakukan oleh militer Indonesia di Biak Papua pada tanggal 6 juli 1998, atau kami sebut dengan Biak Berdarah,” tambah Jackson.

Korlap Aksi itu mengatakan, dalam kasus itu warga Papua di Biak dibantai habis-habisan. Bahkan Jackson menyebut ada yang diculik, dibunuh, hingga perempuan-perempuan diperkosa. Menurutnya kasus tersebut belum diselesaikan oleh negara.

Aktivis LBH Semarang, Agung Setyawan menyampaikan beberapa tuntutan aksi tersebut. Diantaranya menuntut agar pemerintah mengusut dan menangkap pelaku pelanggaran HAM di Biak dan Papua, menarik TNI/Polri organik dan non organik seluruh tanah West Papua.

Selain itu, Agung juga menuntut agar eksploitasi perusahaan milik Imperialis di atas tanah West Papua dihentikan.

“Berikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat Papua, dan membuka ruang demokrasi bagi media asing masuk di seluruh tanah west Papua,” kata Agung.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here