BERBAGI

Serat.id– Kelompok petani garam di Jepara , Jawa Tengah mengeluhkan anjloknya harga garam dikarenakan impor berlebihan, yang dilakukan pemerintah dalam mencukupi kebutuhan garam untuk industri atau masyarakat.

Ketua Asosiasi Petani Garam Jepara, Laviq mengungkapkan anjloknya harga garam pada tahun ini turun drastis hingga Rp 400 per kilogram dan sangat merugikan para petani.

Ilustrasi garam. (pixabay)
Ilustrasi garam. (pixabay)

“Disebabkan kelebihan impor Garam saah satunya disitu paling parah itu,kita sebagai petani dan kelompok petani garam kita minta impor sementara ditutup,” Ujar Laviq kepada serat.id, Senin, 15 Juli 2019.

Menurut Laviq, anjloknya harga garam tidak dikarenakan kualitas garam yang rendah. Ia mengaku garam memang memiliki klasifikasi mutu tersendiri yakni dari garam k1 hingga k3. Garam K1 yang diproduksi oleh petani garam Jepara sendiri dipesan oleh perusahaan garam di daerah Lampung namun harga yang dijual juga rendah.

“Tahun kemarin itu yang K1 bisa Rp 1.000 – Rp 1.500 perkilonya, sekarang turun drastis,” Katanya.

Lebih lanjut Laviq menambahkan, pihaknya telah melaporkan anjloknya harga garam kepada pemerintah daerah , dan meminta solusi agar petani garam tidak merugi saat panen berlangsung. Namun laporan yang ia kirimkan kepada Pemda tidak ada respon.

“Kita sudah lapor ke Pemda tapi tidak direspon,” Jelasnya.

Dari data yang di himpun, Jepara memiliki lahan untuk produksi garam seluas 600 hektare, dengan hasil sekali panen 1 ton hingga 3 ton garam untuk per hektare. Sedangkan untuk per musim bisa mencapai 120 ton untuk per hektare.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here