BERBAGI

Serat.id– Komplek Vihara Buddhagaya Watugong merupakan salah satu tempat ibadah umat Buddha yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pudak Payung, Banyumanik, Semarang. Vihara ini dibangun pada tahun 1955 dan hingga saat ini, menjadi salah satu vihara terbesar di Semarang.

Vihara yang dikelola oleh yayasan keagaman ini, awalnya dimiliki oleh perseorangan. Hingga pada tahun 1997, vihara ini akhirnya diserahkan pada Yayasan Buddhagaya.

Salah satu pengurus Vihara Buddhagaya, Rusmiyantosedang menyiapkan dupa, Sabtu, 13 juli 2019. (Dimitri Janitra/magang)
Salah satu pengurus Vihara Buddhagaya, Rusmiyantosedang menyiapkan dupa, Sabtu, 13 juli 2019. (Dimitri Janitra/magang)

“Dulu yang punya itu seorang tuan tanah bernama Tuan Lim. Tapi Tahun 1997, orangnya sudah tua dan tidak mampu mengelola,” ujar Rusmiyanto, salah satu pengurus vihara saat ditemui serat.id, Sabtu, 13 juli 2019.

Di dalam kompleks vihara seluas 2,5 hektar ini, pengunjung akan disambut oleh sebuah batu alam berbahan andesit bernama watu gong. Batu inilah yang dijadikan nama untuk kompleks vihara ini.

Baca juga: Menengok Produk Unggulan UMKM Semarang di UMKM Galeri

Selain menemui watu gong, pengunjung juga akan melewati Gerbang Sanchi yang megah. Gerbang Sanchi merupakan replika dari gapura yang berada di depan Stupa Sanchi, India. Gerbang ini dibangun sebagai simbol penghormatan saat masuk bangunan vihara.

Di bagian timur kompleks vihara, ada bangunan inti yaitu Dhammasala. Dhammasala merupakan tempat bagi umat buddha untuk melakukan puja bakti, penahbisan samanera bikkhu, ruang samadhi, diskusi dhamma dan sejenisnya. Sedangkan di bagian selatan, pengunjung akan menemui Pagoda Avalokitesvara.

Vihara Buddhagaya Watugong. (Dimitri Janitra/ magang)
Vihara Buddhagaya Watugong. (Dimitri Janitra/ magang)

Pagoda Avalokitesvara merupakan bangunan stupa bercorak oriental setinggi 45 meter, yang di dalamnya terdapat gambaran wujud Bodhisatva Avalokitesvara.

Di dalam pagoda ini, umat buddha biasa berdoa. “Kalo yang sebelah timur kan dhammasala, yang lebih beraliran nasional. Sedangkan yang sebelah selatan, aliran tradisi tionghoa,” ujar Rusmiyanto.

Selain dua tempat ibadah tersebut, banyak situs keagamaan buddha yang bisa ditemui antara lain : Tugu Ariya Atthangika Magga, Patung Buddha Parinibbana, Pohon Bodhi, dan lain-lain.

Di dalam kompleks ini juga terdapat perpustakaan dan juga tempat singgah bagi para bikkhu (pemuka agama) yang bernama kuthi Samadhi.

Baca juga: Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng

Karena kemegahan dan kecantikannya, Vihara Buddhagaya sukses menjadi daya tarik wisatawan dari dalam, maupun luar negeri.

“Kalau hari biasa, bisa ada lebih dari 100 tamu dari kota-kota di luar Semarang. Tidak jarang juga ada tamu dari luar negeri yang sedang singgah dari pelayarannya, terus mampir ke vihara ini,” ungkap Rusmiyanto.

Yayuk, salah satu pengunjung yang berasal dari Jakarta mengaku kagum dengan vihara ini.

“Vihara ini indah dan sekaligus merupakan vihara terbesar yang pernah saya temui. Vihara ini juga oke, maksudnya kita tidak harus terlalu kaku dan yang memakai jilbab diijinkan untuk masuk dan boleh berfoto,” ujar Yayuk pada kunjungannya bersama kedua keponakannya, 13 juli 2019.

Baca juga: Ini Dia, Kampung Kolang-kaling di Semarang

Ia mengetahui vihara ini melalui media sosial. Ia merasa puas dapat berkunjung ke Vihara Buddhagaya Watugong ini.

Vihara Buddhagaya Watugong terbuka untuk umat yang ingin berdoa, maupun untuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan arsitektur bergaya oriental ini.

Vihara ini dibuka setiap hari dari pukul 8.00 sampai 21.00 WIB. Pengunjung hanya perlu menyiapkan uang perawatan seikhlasnya. (Dimitri Janitra/ magang)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here