BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Kasus kematian kucing peliharaan di perumahan Plamongan Indah menimbulkan keresahan, pelaku bisa dijerat penjara maksimal  2 tahun 8 bulan.

Serat.id -Yulinda (bukan nama sebenarnya) tak menyangka belasan kucing yang ia pelihara menghilang sejak pertengahan bulan Juli 2019 lalu. Saat itu ia hendak memberi makan tulang untuk kedua belas kucing peliharaannya, namun saat keluar rumah memanggil nama kucingnya satu persatu tak kunjung muncul.

“Kok tidak ada yangkeluar, jangan-jangan keracunan,” ujar warga yang tinggal Perumahan Plamongan Indah kepada serat.id, Kamis, 15 Agustus 2019.

Keesokan harinya, Yulinda bersama anaknya memutuskan pencarian kucingnya. Namun malang, ia menemukan bangkai kucingnya bernama Kumis di rumah kosong. “Kucing saya gede itu, mati (posisi) jengking,” ujar Yulinda.

Yulinda kemudian melanjutkan pencariannya selama tiga hari beruntun dan menemukan menemukan bangkai kucingnya yang sudah mati. Total berjumlah sepuluh di samping rumah kosong.

Tak jauh dari bangkai kucingnya, Yulinda juga menemukan racun bergambar kucing bertuliskan Mao Weng. “Tidak taunya disitu, juga ada daging ayam mentah (yang dilumuri racun) yang memang
sengaja ditaruh disitu,” ujar Yulinda berkisah.

Hingga kini Yulinda belum menemukan keberadaan dua kucingnya, meski telah mencarinya sekitar kediamannya. Ia merasa sedih atas kematian hewan peliharaan yang ia urus sejak kecil hingga berumur
dua tahun.

Ia kecewa dengan kematian kucing peliharaan yang dipastikan mati
keracunan. Baginya pemberi racun kejam selama ini tidak memberi makan namun tega membunuh.

Kasus kematian kucing peliharaan di perumahan Plamongan Indah juga dialami Nora, seorang warga yang tinggal di Jalan Trembesi. Pada Kamis, 15 Agustus kemarin ia tergopoh-gopoh membawa kucing peliharaannya ke Dokter Hewan karena kucing yang ia pelihara diketahui kejang.

“Kucingnya keracunan satu, tadi di rumah (barusan ditemukan) kejang-kejang,“ ujar Norra.

Kejadian keracunan kucing yang dialami Yulinda dan Nora, sering terjadi selama sebulan ini di sekitar Perumahan Plamongan Indah.
Kepada serat.id warga menyebutkan adanya keracunan kucing yang awalnya dari Yulinda. Kematian kucing itu terus bertambah nyaris rutin saban hari.

“Rumah saya sampai digedor jam 12 malam, (oleh pasien saya) karena (disuruh mengobati) kucing yang keracunan,” ujar seorang dokter hewan yang buka praktek tak jauh dari perumahan Plamongan Indah.

Catatan dia, menunjukan selain kucing yang diracun, juga sebagian ditembak. Tak terkecuali, kucing miliknya, yang tertembak pada akhir Juli lalu. “Jadi panah itu, nancap di kaki kucingnya. Saya tarik pakai tangan tidak bisa, nancap di tulang, saya tarik (panah tersebut) pakai tang,” ujar dokter hewan itu.

Masih beruntung semua kucing yang tertembak tersebut dapat diselamatkan. Mulanya kejadian tertembaknya kucing dikira ulah iseng anak kecil yang sedang bermain.

Ia sempat bertanya kepada Satpam perumahan, namun dibantah, karena perbuatan tersebut tidak mungkin dilakukan anak-anak.
Hingga memasuki bulan Agustus kucing peliharaan masih ditemukan mati, tepatnya pada 7 Agustus 2019, kucing milik seoarang warga lain di perumahan tersebut ditemukan mati di selokan depan rumah karena keracunan.

Hampir semua warga di perumahan tersebut memelihara kucing, hal itu menjadi alasan keracunan kucing itu tidak dilakukan penghuni perumahan. Diduga kematian kucing akibat keracunan mencapai puluhan yang berada di Plamongan Indah. .

Ketua Umum Indonesian Cat Association (ICA), Opoeng Amsoel Nababan, mengecam adanya kematian kucing yang diracun maupun ditembak. “Kami sebagai pecinta kucing kecewa,” ujar Opoeng.
Menurut dia, puluhan kematian kucing yang mati tersebut merupakan pertama kalinya laporan yang baru diterimanya. Mersepon insiden itu, ICA pusat akan berkoordinasi dengan ICA cabang Semarang untuk menindaklanjuti.

“Nanti akan mereka atur caranya, bisa juga (datang) langsung ke lokasi dan menghubungi (informan),” ujar Opong.

Pelaku pembunuh hewan peliharaan bisa dijerat hukum

Pendiri organisasi penyayang binatang, dari Yayasan Sarana Metta Indonesia, Christian Joshua Pale, menganggap kematian kucing yang diracun tersebut merupakan penyalahgunaan obat racun tikus
yang dijual secara online.

“Imbasnya yang merasakan kerugiannya kucing terlantar yang seharusnya tidak menjadi korban,” ujar Christian.

Selain diracun, tembakan obat bius dapat membahayakan kondisi kucing karena jika peluru yang digunakan melebihi dosis, dapat mematikan di tempat.

Christian meminta kepolisian segera menindaklanjuti keresahan warga agar dapat menemukan pelaku.“Jika pelakunya sudah ditemukan (pelaku) dapat dijerat dengan hukuman pasal 302 KUHP dan pasal 406 KUHP, (pelaku) bisa dikenakan hukuman penjara maksimal 2 tahun 8 bulan,” ujar Christian menjelaskan.

Sekretaris RW 07 Perumahan Umum Plamongan Indah, Arif, mengatakan hingga kini belum mendapatkan laporan terkait
kematian kucing yang ditembak dan mati diracun. Ia menyarankan warga yang merasa resah atas kematian kucing tersebut dapat mengadu ke Ketua RT masing-masing.

“Biasanya (laporan tersebut diteruskan) ke rapat RT dan dari RT diteruskan nanti ke Rapat RW,” ujar Aris.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Pertenakan (Dispertan) Kota Semarang, Yuli Tri Astuti, mengatakan, insiden kucing yang mati karena keracunan dan penembakan tidak menjadi kewenangan Dispertan.

Ia mengatakan kewenangan Disepertan terbatas dalam melakukan pencegahan dan penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

“Dalam hal ini pengaduan sebaiknya ke Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan Komunitas Cat Lover,” kata Yuli.

Menurut dia pembunuhan kucing peliharaan itu terkait dengan kesejahteraan hewan kesayangan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here