BERBAGI
Asrama mahasiswa Papua di jalan Tegalwareng II Nomor 15 Semarang. Ulili/serat.id


Insiden pemasangan spanduk yang terjadi di wilayah Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, Minggu pagi pukul 08.07 WIB, tepat sehari usai peringatan kemerdekaan 18 Agustus 2019. \

Serat.id– Ketua Aliansi Mahasiswa Papua, Napinus,  mengaku kecewa dengan kehadiran sejumlah warga dan anggota Ormas Pemuda Pancasila yang memasang spanduk tepat di depan asarama yang dihuni mahasiswa Papua di jalan Tegalwareng II Nomor 15 Semarang.

Insiden itu pun menimbulkan adu mulut antara Napinus, Ketua RW setempat dan Organisasi Pemuda Pancasila yang berakhir pukul 11.37 WIB.

Banyak warga dan  ormas datang dan mereka keluar masuk ke lingkungan asrama tanpa izin  selain itu di luar mereka
berorasi NKRI harga mati,”  ujar Napinus, ketika ditemui serat.id, Minggu, 18 Agustus 2019.

Baca juga : Mahasiswa Papua Tuntut Jokowi Usut Tuntas Kasus Biak

Ekspedisi Papua Terang Pacu Peningkatan Elektrifikasi

Napinus menolak spanduk tersebut karena menjadi bukti diksriminasi keberadaan  mahasiswa Papua. Menurut dia, selain memasang spanduk yang tak dikehendaki penghuni asrama,  anggota Ormas juga memaksa mahasiswa Papua yang tinggal dimintai identitas KTP oleh lima belas orang yang  masuk tanpa izin.

“Kami juga menolak pemaksaan aturan warga yang menyeutkan tinggal asrama  harus berKTP  penduduk Semarang, bukan KTP penduduk Papua,” kata Napinus menegaskan.

Alumni mahasiswa Papua yang sempat tinggal di asrama, Isaac Ronsumbre, menganggap pemasangan spanduk tersebut justru memprovokasi masyarakat dengan  menciptakan kesan  bahwa mahasiswa Papua yang berada di Semarang setuju terhadap pemisahan Papua dengan NKRI.

“Apakah kegiatan selama ini di asrama dipakai kegiatan yang memisahkan dari NKRI, itu kan harus dibuktikan,” ujar Isaac.

Isaac mengatakan Asrama Mahasiswa Papua yang didrikan sejak tahun 1963, bertujuan sebagai kediaman mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Semarang  sedangkan tak adanya keterlibatan warga sekitar yang dilibatkan untuk kegiatan itu persoalan komunikasi.

“Persoalan mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan  mahasiswa Papua, itu persoalan komunikasi,” katanya.

Ketua RW 04, Kelurahan Candi, Muryanto,  mengatakan, pemasangan spanduk tersebut merupakan keberatan warga atas kegiatan asrama yang mengarah kepada pemisahan NKRI. “Kami tidak diskriminasi, karena melakukan (pemasangan spanduk) ini tidak hanya untuk Papua, tapi untuk seluruh warga,” ujar Muryanto.

Ia terpaksa masuk ke asrama mahasiswa Papua untuk menyerahkan identitas KTP sebagai pendataan jumlah mahasiswa yang mendiami asrama. “Semua warga sini (menurut) aturan RT, dalam waktu 1 X 24 jam kan harus lapor tak terkecuali mereka,” ujar Muryanto menambahkan.

Menurut dia, warga sekitar beberapa kali keberatan atas penggunaan asrama untuk kegiatan diskusi kemerdekaan Papua. Di antaranya dilakukan pada bulan Juli dan kegiatan panggung bebas yang berisi orasi politik pada Sabtu, 16 Agustus 2019.  

Ia berharap mahasiswa fokus belajar. “Jangan ada kegiatan  lain, dan berbaullah dengan warga,”  katanya.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang mengangap spanduk yang dipasang di asrama mahasiswa Papua merupakan perbuatan pelanggaran hak asasi manusia.  “Kalau kita mengaku negara demokrasi harusnya kita buka ruang ruang demokrasi,” kata pendamping mahasiswa Papua dari LBH Semarang, Herdin Pardjoangan.

Herdin minta agar masyarakat  dan Ormas di Kota Semarang membiarkan mahasiswa Papua berdikusi. “Kalau tidak ada kesepakatan silahkan ditandingi dengan narasi atau ide,”  ujar Herdin.

Ia juga menyayangkan sikap tak netral saat menjaga jalannya insiden pemasangan spanduk tersebut. Menurut dia aparat seharusnya menjalankan Tupoksi keamanannya dan mencegah warga untuk masuk ke dalam asrama.

“Jangan sampai kemudian mahasiswa Papua yang berada di dalam dirugikan karena telah dimasuki ruang privatnya,” ujar Herdin menjelaskan.

Berdasarkan pantuan serat.id, hingga kini terdapat dua spanduk yang telah terpasang, antara lain di Jembatan Masuk Jalan Tegalwareng II yang telah terpasang dua minggu sebelumnya dan spanduk di depan asrama mahasiswa Papua. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here