BERBAGI
Ilustrasi pixabay.com

Doxing merupakan pelacakan dan pembongkaran identitas jurnalis yang menulis tidak sesuai aspirasi politik pelaku, lalu menyebarkannya ke media sosial untuk tujuan negatif.

Serat.id – Seorang jurnalis asal Papua yang bekerja untuk Koran Jubi dan jubi.co.id, Victor Mambor menjadi korban kekerasan dalam bentuk doxing di media sosial twitter. Doxing merupakan pelacakan dan pembongkaran identitas jurnalis yang menulis tidak sesuai aspirasi politik pelaku, lalu menyebarkannya ke media sosial untuk tujuan negatif.

“Aksi doxing dilakukan oleh akun bernama Dapur (@antilalat),kami ketahui pada  Kamis 22 agustus,” kata Ketua Bidang Advokasi, Aliansi Jurnalis indepeden(AJI) Indonesia, Sasmito Madrim, Jum’at, 23 Agustus 2019.

Baca juga : Jurnalis Semarang diajak Investigasi Anggaran Publik

AJI Dorong Kampus Kembangkan Jurnalisme Data

Menurut Sasmito pemilik akun @Dapur menuding Victor sebagai penghubung Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan pemasok informasi bagi pengacara hak asasi manusia Veronica Koman. “Setidaknya ada 3 kali tudingan yang dilontarkan @Dapur terhadap Victor dalam rentang Juli hingga Agustus 2019 ini,” kata Sasmito menambahkan.

Ia menilai informasi yang disebarkan oleh @Dapur tersebut tidak berdasar dan merupakan upaya untuk memojokkan dan mengintimidasi Victor Mambor.  Sedangkan yang dilakukan Victor menyampaikan informasi melalui medianya merupakan hal yang standar dilakukan.

Pantauan AJI Indonesia menunjukan kerja jurnalistik Victor sudah sesuai etika jurnalistik, yaitu menjalankan profesi seobyektif mungkin, termasuk menerbitkan informasi  setelah melalui proses verifikasi seperti diamanatkan dalam Kode Etik Jurnalistik.

“AJI mengingatkan kepada pengguna media sosial, dan juga aparat keamanan, bahwa jurnalis dalam menjalankan profesinya dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” katanya.

Sasmito memastikan Undang Undang Pers memberi penyaluran melalui mekanisme hak jawab, hak koreksi atau pengaduan kepada Dewan Pers. Ia minta jika ada yang merasa ada yang tidak tepat, keliru dari karya jurnalistik yang dimuat media, maka seharusnya diadukan ke Dewan Pers. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here