BERBAGI

“Karimunjawa adalah zona konservasi, tongkang batu bara telah banyak merusak terumbu karang, bahkan  sering juga terjadi kebakaran tongkang yang berdampak buruk terhadap nelayan lokal,”

Ilustrasi, pixabay.com

Serat.id – Organisasi pemerhati lingkungan Greenpeace Indonesia mengecam keras tongkang batubara yang merusak terumbu karang di wilayah konservasi Taman Nasional Karimunjawa.  Lembaga itu mendesak pemerintah memberikan sanksi kepada pemilik tongkang, yang telah  melanggar aturan dan terbukti meninggalkan kerusakan yang cukup parah terhadap kelestarian Karimunjawa.

“Karimunjawa adalah zona konservasi, tongkang batu bara telah banyak merusak terumbu karang, bahkan  sering juga terjadi kebakaran tongkang yang berdampak buruk terhadap nelayan lokal,” aktivis Lingkungan Greenpeace Indonesia, Dinar Bayu, kepada serat.id, Senin 2 September 2019.

Baca juga : Puluhan Ikan Hiu Mati Mendadak di Karimunjawa

Dinar menjelaskan, selain zona konservasi wilayah karimun juga zona tangkapan nelayan. Sedangkan keberadaan tongkang juga menyebabkan air laut bercampur minyak yang menyebabkan berkurangnya tangkapan. “Nelayan juga sering mengalami sesak nafas akibat terbakarnya batu bara,” kata Dinar menambahkan.

Tidak seharusnya wilayah perairan Karimunjawa menjadi lintasan atau bersandarnya Tongkang batu bara, karena kawasan tersbut merupakan wilayah konservasi. Masih adanya tongkang yang bersandar di Karimunjawa merupakan bukti pemerintah dan dinas terkait tidak tegas mengeluarkan sanksi.

“Kenapa masih saja kecolongan banyak tongkang lagi masuk dan parkir di zona konservasi, itukan sudah jelas pemerintah tidak tegas,” katanya.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Fendiawan, mengatakan telah mengimbau kepada para pemilik tongkang tidak bersandar di perairan Karimunjawa karena akan merusak habitat terumbu karang.

“Kami mengimbau sebenarnya kepada pemilik tongkang sebaiknya tidak melabuhkan kapal disana,” kata Fendiawan.

Ia mengaku  pernah ketemu dengan salah satu pemilik tongkang yang mengaku  sengaja berlabuh larena cuaca dan badai yang sangat besar. “Ada 4 mil berjarak dari pantai mereka parkir sementara alasan karena gelombang cukup besar,”  kata Fendiawan menambahkan.

Menurut dia kapal tongkang tidak seharusnya melewati kawasan perairan Karimunjawa, karena sudah ada jalur tersendiri untuk kapal tongkang meskipun terjadi gelombang tinggi akibat cuaca buruk.

“Harusnya memang tidak diperbolehkan melintasi atau bersandar di perairan Karimunjawa,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here