BERBAGI
Koordinator GusDurian Semarang Ahmad Sajidin (tengah) saat membuka acara KPG #4 GusDurian Semarang di Wisma Yohanes, Jumat (11/09/2019) Dok/Gusdurian Semarang

Membongkar pemahaman toleransi yang selama ini digagas Gus Dur.

Serat.id– Sebanyak 32  kaum muda di Kota Semarang mendapat kesempatan membedah ide dan pemikiran Abdurahman Wahid atau Gus Dur, lewat program Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG #4). Kegiatan yang digelar di Wisma Yohanes, Gunung Pati, 13 hingga 15 September Semarang 2019 itu membongkar pemahaman toleransi yang selama ini digagas Gus Dur.

“Termasuk sepak terjang Gus Dur terkadang dipahami aneh oleh sebagian orang. Misalnya, dialog dengan warga Papua yang menyetujui pergantian dari Irian Jaya ke Papua,” ujar Koordinator Nasional Gusdurian, Alissa Wahid, saat memberikan pembekalan lewat rekaman video kepada peserta KPG #4 Semarang, Jumat 13 September 2019.

Putri  pertama KH. Abdurahman Wahid itu mengingatkan kaum muda sekarang agar dalam memahami sejumlah isu  secara komperhensif. Apa lagi di tengah gencarnya arus informasi yang kadang sengaja mengembangkan isu berdasarkan kepentingan.

“Mengerti secara luas sehingga tak terjebak pada kepentigan sesaat saja,” ujar Alissa menjelaskan.

Baca juga : Gusdurian Unwahas Kaji Pemikiran Kesetaraan

Memori Personal Ketionghoaan Dalam Buku

Koordinator GusDurian Semarang, Sajidin, mengatakan calon penggerak Gusdurian di Kota Semarang harus mengenal sembilan nilai utama Gus Dur. ” Harapannya, setelah KPG ini akan muncul penerus perjuangan Gus Dur melalui nilai dan pemikiran-pemikirannya,” kata Sajidin.

Tercatat  KPG #4 mendapatkan materi tentang sembilan nilai utama Gus Dur yang menghadirkan sejumlah pemateri di antaranya dari Dosen Unnes Syukron Salam, Direktur Elsa Semarang Tedi Kholiludin, Mantan Ajudan Gus Dur Pdt. Tjahjadi Nugroho, Penggagas GusDurian Heru Prasetya dan Lutfi Rahman.

Sembilan nilai utama Gus Dur yang disampaikan meliputi ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, persaudaraan, kesedarhanaan, keksatriaan, dan kearifan tradisi. (*) FADLI RAIS (MAGANG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here