BERBAGI

serat.id– Muji Konde, pelukis asal Semarang kelahiran 1972 telah menelurkan ratusan karya. Guratan-guratan garis abstrak menjadi ciri khas lukisannya. Beberapa karyanya seperti melukiskan wajah dan tubuh manusia dalam ekspresi yang kosong dan terpasung oleh sebuah keadaan. Garis-garis abstraknya lebih menajamkan nuansa emosional sang empu karya.

Ekspresi lainnya juga digambarkan seperti indera penglihatan manusia atau hewan dan tumbuhan yang cenderung absurd. Tetap saja sangat kuat mengajak penikmat karya Konde untuk larut dalam penjiwaan yang sangat kelam.

Konde mengakui hampir semua karyanya bernuansa kekerasan. Ini tak lepas dari perjalanan hidupnya yang dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa sarat kekerasan. Di kawasan Barutikung, Semarang Utara, Konde sejak kecil sudah harus menghadapi kenyataan yang miris. Ia seringkali mendapati orang-orang sekitar lingkungannya mati dibunuh secara misterius.

“Dulu tetangga saya banyak yang mendadak hilang gak tau dibawa sama siapa, tau-tau nanti dikabari sudah meninggal dan jadi mayat”, ujarnya.

Tahun 1980an memang menjadi salah satu masa kelam bagi bangsa Indonesia. Saat itu sedang marak peristiwa Penembakan Misterius (Petrus) di berbagai daerah. Sasarannya adalah preman atau pelaku tindak kekerasan. Di satu sisi pemerintah Orde Baru saat itu menekankan ABRI (Tentara dan Polisi) untuk melakukan tindakan tegas dalam menekan angka kriminalitas.

“yang diculik dan dibunuh itu bukan cuma preman, seperti yang diceritakan orang-orang selama ini, tapi juga anak-anak muda usia 20 tahunan,” lanjut Konde sembari mengingat kejadian kelam tersebut.

Ayahnya yang saat itu merupakan tokoh masyarakat, sering didatangi polisi menginformasikan penemuan mayat tetangganya yang sempat hilang tanpa kabar. Bahkan Konde mengaku sering melihat tetangganya diciduk gerombolan tak dikenal. Lalu kemudian harinya barulah terdengar kabar bahwa tetangganya tersebut telah menjadi mayat dengan luka tembak.

Hingga Konde dewasa, memori masa kecilnya selalu terbawa dalam perjalanannya ketika memulai proses berkesenian. Konde sempat berpetualang ke Bali untuk mengolah bakat seni rupanya. Namun semua proses itu tidak mengubah muatan ekspresi seninya yang tertuang dalam kanvas.

Pada Desember 2016, Konde sempat membuat pameran tunggal seni rupa di Semarang bertajuk “Petrus”. Tidak hanya lukisan, Kondepun piawai membuat instalasi-instalasi seni rupa. Saat ini ia sedang mempersiapkan lukisan dan instalasi seni rupa terbarunya untuk Pazaar Seni #6 yang diadakan 13-15 September 2019 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here