BERBAGI
Salah satu sudut di Hilside Caffe Lereng Kelir. ist/serat.id

Kawasan di desa Gertas Lereng Kelir itu juga menawarkan paket wisata pengolahan kopi mulai budidaya tanaman, panen hingga pengolahan menjadi bubuk kopi yang siap di sajikan.

Serat.id – Aroma kopi hangat dan makanan ringan yang diolah dari bahan umbi umbian menemani saat duduk di Hilside Caffe Lereng Kelir. Tempat kongko di wilayah Kabupaten Semarang, tepatnya di Dusun Gertas, Desa Brongkol, Kecamatan Jambu itu tak hanya menawarkan sensasi menikmati kopi, namun juga pemandangan alam khas pegunungan.

Tim Serat.id sengaja menjajal salah satu tempat jujugan para milenial itu. Sesuai namanya, Hilside Caffe Lereng Kelir berada di  lereng gunung Kelir Kabupaten Semarang. Kawasan itu bisa ditempuh kendaraan mobil sekitar dua jam dari pusat Kota Semarang.

Yang unik dari kawasan itu, pengunjung harus berjalan kaki dan mendaki selama 1,5 jam melalui Dusun Gertas. Namun rasa lelah proses perjalanan penuh perjuangan itu terasa musnah saat sampai di lokasi yang tak hanya menawarkan kopi dan makanan khas, namun gardu pandang Lereng Kelir yang sengaja dibangun di atas bukit di ketinggian 1300 Mdpl.

Dari gardu itu pengunjung bisa melihat panorama danau Rawa Pening, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, Gunung Merbabu dan kota-kota di sekitarnya seperti Ambarawa dan Salatiga.

Baca juga : Hutan Pinus Kragilan, Destinasi Paling Cocok Untuk Selfi

Fenomena Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng 

Kebun dan Swafoto ‘Tumbuh’ dari Danau Rawa Pening

Sedangkan tak jauh dari lokasi gardu pandang terdapat camping area dengan luas sekitar 600 meter persegi. Tempat ini di tujukan bagi wisatawan atau pengunjung yang ingin camping atau sekedar ingin menikmati suasana malam hari di area puncak.

Obyek wisata di atas ketinggian itu layak menjadi jujugan berakhir pekan bersama keluarga, teman, atau pasangan.  Tak hanya gardu pandang yang mengajak pengunjung merasa “terbang” di awan, Hilside Caffe Lereng Kelir juga memberikan hiasan beragam tempat berswafoto.

“Area swafoto atau selfie pun dibuat oleh para pemuda setempat agar pengunjung dapat mengabadikan kenangannya,” kata  seorang pengelola, Hilside Caffe Lereng Kelir, Imam Safroni, kepada serat.id .

Imam mengingatkan datang ke lokasi itu sangat menguji nyali karena mulai perjalan di ujung dusun ke lokasi Lereng Kelir ini cukup terjal. “Akan sangat menguras tenaga pengunjung. Jadi saran kami sebelum ke Lereng Kelir, persiapkan dahulu staminanya,” Imam menjelaskan.

Namun Imam memastikan tantangan jalan kaki ke tempat tinggi akan terobati sat menikmati kopi lokal hasil karya masyarakat setempat.

Kopi Khas Hingga Beragam Hasil Alam

Mengunjung Hilside Caffe Lereng Kelir, di Dusun Gertas, Desa Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang tak lepas dari proses jalan setapak  dengan dengan hamparan kebun kopi jenis robusta.

Pada 2018 kopi dari hamparan kebun itu masuk dalam urutan sepuluh besar The Best Indonesian Coffee tingkat nasional yang di selengarakan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) dan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI).

Serat.id menjajal secangkir kopi hangat tersebut dengan aroma khas cita rasa alami moka. Rasa itu sulit didapatkan kopi daerah lain. Aroma kopi asal salah satu pengunungan di Kabupaten Semarang itu sangat  terasa oleh seduhan air panas suhu 80 derajat celcius yang diaduk dengan sendok dan menghasilkan krema. Krema adalah cairan berwarna kuning tua yang muncul pertama kali saat ekstraksi.

Salah satu sudut kawasan wisata desa Gertas Lereng Kelir . ist/serat.id

Krema biasanya mengambang seperti buih dalam secangkir kopi, terutama yang disajikan dengan cara manual brew cupping atau lebih dikenal tubruk. Bagi penikmat kopi, khususnya espresso, krema adalah bagian paling manis dalam sebuah kopi.

Tak heran desa Gertas Lereng Kelir menawarkan paket wisata memperkenalkan budidaya tanaman kopi, panen hingga pengolahan menjadi bubuk kopi yang siap di sajikan.

Seorang pengelola, Hilside Caffe Lereng Kelir, Imam Safroni, menyatakan selain tanaman kopi, Dusun Gertas juga terkenal buah durian Durian Brongkol dengan cita rasa khas yang sudah terkenal kualitas buahnya.

Tak hanya itu Lereng Kelir juga memeberikan beberapa tawaran kuliner satunya sego rentung berbahan utama sayur dari jantung pisang dan perpaduan daging. Olahan kuliner ini dinamakan sego rentung yang artinya nasi rendang jantung pisang.

Sedangkan makanan ringan yang menjadi khas dari desa Gertas Lereng Kelir antara lain, Likak likuk, yakni makanan berbahan singkong yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi seperti donat dengan toping lelehan gula aren.  Selain itu klepon talas, olahan kuliner berbahan utama umbi talas serta jenang kopi, wingko durian, peyek pete, peyek kelor, stik durian.

Aneka kudapan itu bisa ditemui saat berkunjung dan menginap akhir pekan. “Pada Minggu pagi mulai pukul 05.00 sampai pukul 09.00 bisa melanjutkan menikmati jajanan tradisional di sepanjang Jalan Muhammad Zaen yang menghubungkan Desa Brongkol dan Desa Jambu,” kata Imam Safroni.

Aneka makanan itu dijual di Pasar Kolbu, singkatan dari Brongkol-Jambu tepat berada di tengah pematang sawah. Di pasar kudapan khas itu pengunjung juga bisa melihat terbitnya matahari dari balik Gunung Lawu.

“Yang kami tawarkan pemandangan pegunungan, lintasan jogging dengan udara bersihnya, dan kuliner tradisional,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here