BERBAGI
Warga memanfaatkan pekarangan rumahnya menyalurkan hobi bertaninya lewat akuaponik, serat.id/Dok

Berbekal hobi masyarakat memanfaatkan media tanam alternatif sebagai petani sampingan di rumah

Serat.id –  Sejumlah masyarakat mulai memanfaatkan media tanam alternatif di tengah menyempitnya lahan pertanian. Berbekal hobi masyarakat memanfaatkan media tanam alternatif sebagai petani sampingan di rumah.  

Di antara petani kreatif itu  Muhammad Furqon, warga Desa Wates Kecamatan Wonotunggal,  Kabupaten Batang, memanfaatkan pekarangan rumahnya menyalurkan hobi bertaninya lewat akuaponik. 

“Akuaponik adalah sistem pertanian yang mengkombinasikan hidroponik dan akuakultur,” kata Furqon, kepada serta.id belum lama ini.

Baca juga : RTRW Jateng hilangkan 878 Ribu Hektare Lahan Pertanian

API Jateng: Kebijakan Pemerintah Harus Berpihak pada Petani

Ia melakoni pertanian berbasis akuaponik dalam setahun terakhir ini, sistem pertanian itu sangat cocok pada lahan seadanya di pekarangan rumahnya. Menurut Furqon, sistem akuaponik cocok diterapkan dalam sebuah pekarangan yang tidak luas seperti di rumah, kantor,  balkon dan areal yang sempit lainnya.

“Selain efisien, hasil panen pun bisa mendapat dua macam, yakni sayuran atau perikanan,” kata Furqon menambahkan.

Sistem pertanian itu dinilai dapat merubah kebiasan bertani tradisional ke pertanian modern. Selain itu keunggulan akuaponik sangat hemat air, karena air dalam budidaya ikan disirkulasi dan dialirkan ke media tanaman.  Dalam akuaponik, kotoran ikan diberikan kepada tanaman namun diubah dulu menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami dan menghasilkan nutrisi untuk konsumsi tanaman.

Hal itu karena tanaman sayuran sesuai dengan daerah masing-masing, sementara untuk ikan nutrisi yang baik untuk tanaman menurutnya adalah lele,  gurame,  bawal.

“Kalau saya ini sayuran kangkung sangat bagus, ini saya masih mencoba yang bawang dan kombinasinya dengan budidaya ikan lele,” kata Furqon menjelaskan.

Metode pertanian itu Furqon bisa memanen dua kali dalam sepekan dengan hasil panen tiga kilogram kangkung organik. Sedangkan untuk budidaya lelenya dapat dipanen setiap dua bulan sekali.

serat.id / dok

Kini Furqon terus gencar berpromosi ke petani lain dan generasi muda agar semakin dikenal dan petani batang bisa menjadi petani modern. “Saya berharap tidak hanya petani saya tapi warga juga bisa ikut membudidayakan sistem akuaponik,” katanya.

Tak hanya Furqon, Ira Lukman, warga Banyumaik Kota Semarang  menyalurkan hobinya berkebun menggunakan media hidroponik sejak sekitar tahun 2015 lalu.

“Sebelum menanam menggunakan hidroponik saya menggunakan cara konvensional yaitu menanam di tanah,  sayangnya lahan di perumahan begitu terbatas,” kata Ira.

Ira yang bercita cita ingin memiliki rumah dengan lahan luas agar bisa menanam tanaman yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari hari awalnya mengenal sistem berkebun sistem hidroponik dari temannya.

“Menurut saya menarik karena tinggal di perumahan dengan lahan terbatas rasanya ini menjadi solusi tepat bagi kami pecinta tanaman,” kata Ira menjelaskan.

Kini di tengah kesibukannya sebagai pegawai sipil ia telah menanam aneka sayuran sehat bebas pestisida untuk keluarga. Tercatat aneka sayuran seperti sawi,  pockhoy,  seledri,  kangkung dan bayam ia peliharan di sela kesibukannya. Beragam sayuran itu dengan mudah ia panen ketika berusia  40 hari, bahkan jenis kangkung dan  bayam bisa dipanen dua  hingga kali setelah 35 usai disemai.

Sebagai masyarakat perkotaan Ira tak perlu repot belajar memelihara tanaman, ia mengaku belajar sistem bertani hidrponik secara online dan komunitas yang didirikan oleh salah satu produsen nutrisi.

“Lembaga itu menyediakan jasa pelatihan online dari teori sampai panen melalui WA group,” katanya.

Selain itu media sosial seperti facebook  juga banyak memberikan tempat belajar lewat komunitas hidroponik. Tak jarang komunitas itu menggelar jambore setiap tahun sebagai ajang bertemunya para penghobi dan pebisnis hidroponik. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here