BERBAGI

AJI Semarang menilai selama ini Polisi membuat narasi tersendiri yang justru menimbulkan kesesatan informasi.

Serat.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang mengingatkan kepada kepolisian bahwa penangkapan Dhandy Dwi Laksono dan Ananda Badudu bisa memicu kemarahan rakyat.  AJI Semarang menilai selama ini Polisi membuat narasi tersendiri yang justru menimbulkan kesesatan informasi.

“Penangkapan ini menghambat proses kebebasan berekspresi untuk menginformasikan tentang kondisi sebenarnya yang ada di papua,” kata Ketua AJI Kota Semarang, Edi Faisol,  Jum’at 27 September 2019.

Berita terkait : Penangkapan Dhandy dan Ananda Menuai Protes

AJI Desak Polisi Segera Bebaskan Dandhy Laksono

Edi mengatakan mengatakan Dhandy Dwi Laksono ditangkap petang tadi di rumahnya yang berada di daerah Bekasi pada pukul 23:45 WIB. Dhandy ditangkap dengan jeratan Undang-Undang ITE. Sementara Ananda Badudu, ditangkap oleh polisi karena menggalang dana untuk keperluan aksi di senayan pada 23-24 September 2019 kemarin.

Menurut Edi penangakapan itu bagian sikap Polisi yang membuat narasi tersendiri dalam menghadapi arus masa yang menolak revisi KUHP  dan penetapan UU KPK. Ia menuding selama ini Polisi membuat narasi tersendiri yang justru menimbulkan kesesatan informasi.

Salah satunya soal informasi mobil ambulans yang sebelumnya dituding membawa batu dan minyak oleh demonstran, yang ternyata tidak terbukti. “Fakta itu menunjukan polisi mencari kambing hitam,” kata  Aris menjelaskan.

Tercatat Ananda merupakan aktivis sekaligus musisi yang juga merupakan anggota SINDIKASI, sedangkan Dandhy Dwi Laksono merupakan jurnalis, pendiri Watchdoc Documentary dan pegiat HAM yang selama ini karnya banyak membongkar fakta oligarki kekuasaan dan pelanggaran lingkungan.

Salah satu karya dokumenter Dhandy mengungkap berbagai permasalahan di Indonesia seperti ancaman perkebunan sawit lewat film dokumenter Asimetris dan Sexy Killers yang mengkritisi praktik pertambangan di Tanah Air.

“Ini ditonton jutaan masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa,” kata Edi menjelaskan.

Ia menyebut penangakapan Dhandy bagian dari upaya negara menghambat kebabasan pers yang saat ini masih terancam. “Kami juga menyesalkan tindak kekerasan terhadap jurnalis yang melakukan liputan unjuk rasa kemarin, kita itu kan kerja dilindungi undang-undang,” katanya. (*)

Catatan, naskah ini usai disunting karena terjadi kekeliruan nama sumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here