BERBAGI

Serat.id-  “Aku akan ke ibu kota. Banyak kawan ikut serta.”

Dia mengirim pesan saat aku tengah menanti matahari hilang di garis laut. Aku senang melihat saat-saat matahari tenggelam. Suasana yang magis.

Sesaat sebelum hilang, matahari sering terlihat terlihat bundar utuh sebundar-bundarnya. Warnanya jadi jingga, membatasi batas lingkarnya dan kontras di langit biru. Setelah tenggelam, warna matahari tadi tak hilang tapi justru menggantikan biru langit, meski sesaat. Sebelum semuanya menghitam.

Aku ingin percaya bila matahari yang bundar dengan warna jingga yang kuat itu sebenarnya tak hilang di garis batas laut, tapi pecah. Karena itu warnanya nyiprat ke langit. Buktinya, meski matahari tak lagi terlihat, jingga matahari tadi berpindah ke langit.

Saat-saat itulah yang kutunggu. Saat suara ombak menepi mengiringi pecahnya bundar matahari.  Saat warna matahari yang jingga berpindah ke langit.

“Aku tak tahu kapan pulang.”

Belum kubalas pesan yang tadi, dia sudah mengirim pesan lagi. Segera saja kubalas, “Hati-hati.”

Aku ingin mendapat balasan lagi, tapi hingga gelap menyergap ternyata nihil. Tak ada lagi pesan darinya. Tak hari itu, tak hari-hari berikutnya. Hingga kabar yang kukhawatirkan benar-benar datang.

***

Di atas adalah cuplikan cerita pendek (cerpen) berjudul “Magi” karya Adhitia Armitrianto yang pertama dibacakan di acara panggung kesenian bertajuk “Kabar dari Bawah Jembatan”. Acara di lingkungan hunian sementara (huntara) warga Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang ini diselenggarakan oleh kelompok seniman Guyub TBRS” pada 5 Oktober 2019. Dari cerpen tersebut direspon melalui video art berjudul “Rindu Micin” oleh Tomy Setyawan. Selain menyerap konten cerpen, video art ini juga diilhami oleh lagu “Perjalanan” karya Wak Yok. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here