BERBAGI
Ilustrasi kekerasan (foto pixabay.com)

Jurnalis dilindungi undang-undang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya

Serat.id– Aliansi Jurnalis Independen  (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mengecam penghalangan kerja jurnalis oleh aparat kepolsian, saat meliput demonstrasi di Mapolda Sultra, Selasa 22 Oktober 2019 lalu.

Kedua organisasi itu menilai jurnalis dilindungi undang-undang dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya. “Dalam melaksanakan tugasnya, jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999,” kata Sekretaris AJI Kendari, Rosniawanti Fikri Tahir, dalam siaran resmi yang diterima, kepada serat.id, Kamis, 24 Oktober 2019

Berita terkait : Ini Kronologi Intimidasi Aparat Polisi Terhadap Jurnalis di Kendari

Rosniawanti menyebutkan dalam Pasal 2 dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 menegaskan, kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.

“Dalam Pasal 4 ditegaskan, Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran,” kata Rosniawanti menegaskan.

Ia menjelaskan dalam aturan itu kemerdekaan pers sanagat dijamin dalam mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Sedangkan bagi pihak yang menghalang-halangi kerja jurnalis, melanggar Pasal 18 ayat 1 yakni, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Lima ratus juta rupiah.

Ketua Ketua IJTI Sultra, Asdar Zuula menuding  tindakan oknum kepolisian tersebut sebagai bentuk pelanggaran undang-undang. Maka kami mendesak Kapolda Sultra, Brigjen Pol Merdisyam, mengusut dan memberi sanksi kepada anggotanya yang menghalangi kerja-kerja sejumlah jurnalis saat peliputan,” kata Asdar.

Menurut dia, tindakan sejumlah oknum polisi yang menghalangi, mengintimadasi dan kekerasan terhadap jurnalis melanggar Pasal 18 ayat 1, Undang-Undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers.

“Kami mengutuk tindakan teror terhadap jurnalis inikatasultra.com, Ronald Fajar, diduga dilakukan oknum polisi,” katanya.

Ia mengimbau polisi dan semua pihak menghormati tugas jurnalis saat melakukan peliputan di lapangan, karena dilindungi undang-undang. Sedangkan kepada semua jurnalis, agar memperhatikan keselamatan saat melakukan peliputan dan menaati kode etik jurnalistik. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here