BERBAGI
Tedi Kholiludin, Cahyono (moderator) dan Tubagus Svarajati, saat saat peluncuran buku karyanya, Pecinan di Pecinan: Santri, Tionghoa dan Tuan Rumah Kebudayaan Bersama di Kota Semarang, Jumat 15 November 2019

Tidak ada yang dominan dan menjadikan yang lainnya sebagai inferior.

Serat.id – Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama [ELSA] menyebutkan semua kebudayaan memiliki kekhasan dalam pengelolaan kemajemukan budaya. Kebudayaan di ibu Kota Jawa Tengah itu, tidak ada yang dominan dan menjadikan yang lainnya sebagai inferior.

“Semuanya ada dalam panggung yang sama, tidak saling menegasi, dan pada saat yang sama, menjaga agar tidak saling menyakiti,” kata Peneliti di Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama [ELSA] Tedi Kholiludin, saat peluncuran buku karyanya, Pecinan di Pecinan: Santri, Tionghwa dan Tuan Rumah Kebudayaan Bersama di Kota Semarang, Jumat 15 November 2019 kemarin.

Baca juga : Kaum Muda Semarang Bedah Pemikiran Gus Dur

Polemik Pendirian Gereja di Tlogosari, Menanti Respon Pemkot Semarang

Tedi yang mengambil kebudayaan santri dan Tionghoa sebagai objek penelitiannya menyebutkan dari aspek kognitif dan simboliknya kebudayaan yang terbentuk akhirnya menunjukkan sesuatu yang khas. “Yakni terciptanya tuan rumah kebudayaan bersama atau shared host culture,” ujar Tedi menambahkan.

Menurut dia kebudayaan santri, Tionghoa, Jawa dan juga lainnya ada dalam satu panggung bersama yang tidak terlampau intens dalam berdialog, tetapi juga tidak saling menegasikan. Perdamaian negatif dan natural tercipta dengan ditandai oleh absennya konflik secara struktural. Dialog terjadi secara natural dan kebanyakan dilakukan ketika ada kepentingan bersama atau simbol pemersatu diantara elemen-elemen tersebut.

Hal lain yang ditemukan Tedi adalah bangunan karakteristik dari habitus yang ditandai oleh hadirnya tuan rumah kebudayaan bersama tersebut. “Di sini ada masyarakat kontraktual yang semangatnya egaliter dan transaksional. Lalu ada pasar sebagai identitas budaya, juga ruang ekonomi tentu saja,” kata Tedi menjelaskan.

Ia menjelaskan publik bisa melihat banyak kebudayaan hibrid yang dinamis dalam konteks tuan rumah kebudayaan bersama tersebut.

Kritikus Budaya Kota Semarang, Tubagus Svarajati, dalam pendapatnya peluncuran buku Santri, Tionghoa dan Tuan Rumah Kebudayaan Bersama, mengapresiasi terhadap buku tersebut sebagai bangunan teoritik yang baru tentang kebudayaan di Semarang.

“Saya lahir dan besar di Pecinan Semarang. Saya akrab dengan persoalan kesenian, berpikir kultural dan sangat panjang sekali. Baru Kang Tedi ini yang mampu memberikan bangunan teoritik tentang apa itu Semarang melalui istilah tuan rumah kebudayaan bersama tersebut,” kata Tubagus.

Penulis buku Pecinan Semarang itu menyebutkan para pegiat seni dan kebudayaan seringkali menyebut Semarang itu kota tanpa identitas. ia mengajak publik bahwa tesis yang dibangun oleh Tedi, jangan kemudian diterima apa adanya.

“Ia harus dikritik dan diuji. Misalnya soal kontribusi santri. Pada aspek mana kontribusi itu diberikan; bangunan kulturalnya, relasi sosialnya atau hal lain,” kata Tubagus.

Tubagus juga memberikan kritik, bahwa Tedi tidak melihat Tionghoa sebagai komunitas yang majemuk. Karena, secara keagamaan, orang-orang Tionghoa ini tidak hanya ada pada satu kelompok agama saja. “Beda halnya ketika menyebut santri. Ini kan berarti orang Jawa, beragama Islam. Sementara orang Tionghoa itu agamanya sangat plural sekali,” katanya.

Menurut dia, bangunan kebudayaan bersama sesungguhnya pujian, tidak ada identitas, tidak ada kebudayaan, semuanya tidak dalam konteks berkontestasi. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here