BERBAGI

Serat.id- “Selamat jalan kawan”

“Terkenang perjuangan”

“Selamat jalan kawan”

“Bukanlah perpisahan”

Itulah sepenggal lirik lagu “Nyanyian Merah” karya Catur Adi Laksono atau sering disebut Wak Yok. Lagu yang liriknya ditulis Angger Jati Wijaya dan aransemennya oleh Segorames (Segerombolan Rakyat Merdeka Semarang) ini dipersembahkan untuk mengenang kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib. Di 2004 beberapa seniman dan aktivis HAM juga turut menciptakan lagu untuk Munir yang dirangkum dalam satu album. https://odishalahuddin.wordpress.com/2011/08/16/lirik-lagu-dalam-album-nyanyian-merah-mengenang-sobat-munir/

Lagu “Nyanyian Merah” ini kembali dibawakan Wak Yok beserta beberapa seniman dan aktivis anak di acara “Merawat Nyanyian Anak Negeri” (Catatan Gerakan Anak di Kota Semarang) oleh Yayasan Setara, di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, 1 Desember 2019. Wak Yok sendiri adalah seniman dan mantan aktivis jalanan di masa-masa mulai bertumbuhnya gerakan reformasi ’98.

Secara khusus acara ini lebih memuat isu tentang anak, termasuk anak jalanan dalam kaitannya persoalan HAM. Di sela-sela acara disisipi diskusi tentang refleksi perjuangan penegakan hak anak pada kurun ’90 an hingga setelah reformasi. Pembicara yang dihadirkan adalah Winarso, aktivis Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PJAS), Odi Shalahuddin, aktivis anak, dan dan Wak yok, sang empu “Nyanyian Merah”.

Menurut Bintang Al Huda, Humas Setara, acara ini di antaranya untuk menumbuhkan semangat bagi pegiat perjuangan hak anak era kini. Dengan menceritakan pengalaman dan mengenalkan karya-karya lagu perjuangan masa lalu diharapkan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda sekarang.

“Kalau dulu teman-teman (aktivis) dipengaruhi situasi sosial politik (masa pra reformasi), sehingga mau gak mau mempropaganda dengan lagu-lagu dan mengorganisasikan gerakan-gerakan yang dilarang (rezim saat itu)”, ujar Bintang.

Tambahnya, sekarang organisasi-organisasi pendamping anak jalanan lebih cair dan menjalankan praktik pendidikan alternatif yang bebas.

Acara Setara ini sekaligus menjadi pembuka dari rangkaian peringatan hari HAM oleh Jaringan Masyarakat Sipil Peduli HAM Jawa Tengah (1-10 Desember 2019). Sementara pembukaan rangkaian acara ini bersamaan pula dengan Pameran Seni Rupa “Traumatofobia” oleh Dewan Kesenian Semarang (Dekase), di gelaran peringatan hari HAM yang sama. (*)


Panggung musik dan diskusi “Merawat Nyanyian Anak Negeri” (Catatan Gerakan Anak di Kota Semarang) oleh Yayasan Setara dan pembukaan rangkaian acara peringatan hari HAM oleh Jaringan Masyarakat Sipil Peduli HAM Jawa tengah, di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, 1 Desember 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here